(Studi Kasus: Wilayah Jakarta – Bogor)

Wilayah fisiografi Jakarta terletak pada dataran rendah berupa flood plains yang berasal dari gunung Gede-Pangrango, Salak dan Halimun, membentang mulai dari daerah Serang sampai Cirebon yang mengalami proses pelipatan. Wilayah  Jakarta termasuk pada wilayah endapan yang potensial sebagai tempat genangan air.

Potensi-potensi genangan ini merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan bagi sebagian besar wilayah Jakarta. Faktor lainnya adalah dengan bertambahnya wilayah terbangun (built up area), maka muka tanah yang biasanya merupakan peresapan akan jauh berkurang luasannya. Sinukaban (2005), banjir di Jakarta terjadi karena penggunaan lahan di kawasan DAS Ciliwung tidak sesuai  dengan kaidah-kaidah konservasi tanah. Akibatnya, sebagian besar air hujan tidak terserap tanah, tetapi mengalir di permukaan tanah (run off), lalu langsung masuk ke sungai.

Fenonema iklim yang mana terlihat adanya hubungan antara keadaan fisiografi dengan distribusi curah hujan. Semakin ke Selatan terlihat peningkatan angka curah hujan yang semakin tinggi. Sehubungan itu perlu dikaji mendalam variabilitas hujan bulanan pada periode la nina.

  1. Analisis Sungai Ciliwung

Secara geomorfologi Dataran Jakarta digolongkan ke dalam dataran aluvial pantai dan sungai. Dataran ini mempunyai bentang alam datar, sungai bermeander, yang sebelumnya merupakan dataran rawa, baik rawa pantai, laguna, ataupun rawa belakang akibat limpasan yang melampaui tanggul alam. Dengan kondisi geomorfologi seperti ini, Jakarta secara alami rawan terhadap banjir dan penggenangan.

Kondisi ini semakin parah dengan adanya curah hujan tinggi di pegunungan di selatan Jakarta yang merupakan wilayah hulu sungai-sungai yang mengalir melewati Jakarta dan bermuara di Laut Jawa (Teluk Jakarta). Perubahan morfologi berupa pembentukan tinggian-rendahan yang menyebabkan semakin meluasnya daerah genangan, juga disebabkan faktor-faktor lain seperti konsolidasi tanah alami, kemungkinan kegiatan neotektonik, diantaranya gempa bumi, naiknya muka air laut, serta faktor antropogenik, yaitu campur tangan manusia, terutama pembangunan bangunan bertingkat, pembendungan, penggalian dan pengambilan air tanah.

DAERAH YANG DILALUI SUNGAI CILIWUNG JAWA BARAT (9 lokasi) :

• Masjid Attaawun (Jawa Barat)

• Cisampay (Bogor, Jawa Barat)

• Leuwi Malang (Bogor, Jawa Barat)

• Pasir Angin (Bogor, Jawa Barat)

• Katulampa (Bogor, Jawa Barat)

• Kebun Raya (Kota Bogor, Jawa Barat)

• Kedung Halang (Kota Bogor, Jawa Barat)

• Pondok Rajeg (Jawa Barat)

• Jembatan Panus (Depok, Jawa Barat)

Jakarta (6 lokasi) :

• Jembatan Kelapa Dua (Jakarta)

• Condet (Jakarta)

• Manggarai (Jakarta)

• Kwitang (Jakarta)

• Gunung Sahari (Jakarta)

• Pantai Indah Kapuk (Jakarta)

Pola aliran Sungai Ciliwung:

Pola pengaliran sungai dalam kaitannya dengan proses hidrologi, maka morfologi sebuah DAS yang mencakup aspek bentuk, jaringan dan relief mempunyai peranan terhadap pembentukkan karakteristik limpasan/run off. Pengaruh morfologi DAS terhadap karakteristik limpasan untuk beberapa kasus DAS di dunia dapat dilihat pada literatur standar seperti, Gregory & Walling (1973) dan Petts (1985).

Secara keseluruhan semua sungai yang mengalir melewati kota Jakarta dikarakteristikkan dengan bentuk daerah pengaliran berbentuk bulu burung. Pola ini dicirikan dengan bentuk DAS yang ramping dan memanjang, dimana anak-anak sungai mengalir ke sungai utama dari sisi kiri dan kanan sungai. Secara hidrologis DAS seperti ini ditandai dengan debit banjir yang relatif kecil, oleh karena waktu tiba banjir dari anak-anak sungai tersebut berbeda-beda. Sebaliknya banjirnya relatif berlangsung agak lama.

Distribusi luas areal untuk setiap interval ketinggian diperlihatkan juga pada tabel berikut. Dari tabel tersebut diperlihatkan tinggi maksimum DAS dan besaran luas untuk setiap interval ketinggian.

Berkaitan erat dengan kondisi tata air dan bahan induk yang membentuk, maka wilayah endapan tersebut dapat dikelompokkan menjadi aluvial pantai, tanggul pantai atau sungai dan aluvial dataran. Aluvial pantai dengan ketinggian tempat antara 0-3 m dpl dicirikan dengan permukaan air tanah yang rendah, air tanah asin dan lebih sering tergenang, serta bahan induk aluvium pantai. Wilayah endapan pantai dijumpai di wilayah Jakarta Utara (9177 Ha), Jakarta Barat (3753 Ha) dan Jakarta Pusat (890 Ha). Wilayah Tanggul pantai dan sungai dengan ketinggian tempat antara 1-7 m dpl dicirikan dengan air tanah dangkal yang tawar dan umumnya tidak tergenang.

Unit morfologi ini berbahan induk pasir halus andesit dan merupakan wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi. Wilayah endapan yang berada lebih keselatan adalah wilayah aluvial dengan ketinggian tempat antara 3-7 m dpl. Permukaan air tanah dangkal dengan kondisi tergenang periodik. Wilayah ini dicirikan dengan bahan induk aluvium pantai, aluvium sungai, batuan vulkanik muda dan pasir tufaan. Di Jakarta Barat luas wilayah endapan aluvial 3500 Ha, Jakarta Pusat 3502 Ha, Jakarta Timur 3025 Ha dan Jakarta Utara 2975 Ha.

Dibagian tengah DAS sungai-sungai yang bermuara di Jakarta adalah kota Depok Kabupaten / Kota Bogor, juga padat penduduk dan pusat pertumbuhan, pusat pemukiman di Cibubur, Sawangan, Bekasi dan lain-lain, yang menyebabkan situ dan lembah serta kawasan terbuka / lindung (daerah resapan air) hilang / habis akibat beralih fungsi menjadi lahan kedap.

Pada bagian hulu DAS Ciliwung yang mencakup wilayah Bogor, Puncak, Cianjur (Bopunjur) akhir-akhir ini menjadi pusat Villa (bertumbuh 1000 Villa sejak tahun 2000), serta pemukiman umum, yang menjadikan DAS Ciliwung tidak lagi mempunyai daerah tangkapan air atau resapan, sebagai pengendali bahaya banjir dan kekeringan bagi Jakarta.

 

Presented by DANIEL RADITYO

270110090060