Bentuklahan gunungapi terbentuk dari hasil endapan gunungapi berupa endapan lava yang membeku dan fragmen – fragmen gunungap, sehingga dapat dibedakan dengan bentuklahan lainnya dan sangat mudah dikenali pada foto udara.

Letusan (erupsi) gunungapi dapat dibedakan berdasarkan material yang keluar dari saluran magma gunungapi atau ” vent ” , yaitu jika material yang dikeluarkan dari saluran magma melalui pusat saluran magama gu –   nungapi / vent disebut sebagai pusat letusan. Material yang keluar melalui celah / rekahan saluran magam disebut sebagai letusan celah / rekahan dan material yang keluar melalui beberapa saluran magma yang tersebar luas pada suatu daerah disebut sebagai daerah letusan.

Klasifikasi ini sulit untuk diterapkan pada setiap kejadian letusan, karena sebuah letusan akan terjadi di sepanjang rekahan (minakat lemah), sehingga pusat letusan besar dapat terjadi melalui sejumlah kerucut parasit (parasit cone) yang terapat disepanjang jalur rekahan pada sayap / lereng gunungapi. Perbedaan pusat letusan dengan letusan yang terjadi melalui rekahan umumnya tergantung pada skala dan tahap pertumbuhan gu –        nungapi, sehingga perbedaan itu akan sangat menonjol. Daerah gunungapi disebut juga “polyrifice” dicirikan oleh tidak pernah terdapat pusat letusan, karena letusan akan terjadi pada titik – titik tertentu dalam kurun waktu yang panjang (Karapetian, 1964).

Struktur tubuh gunungapi cenderung berukuran kecil dan jarang mencapai ketinggian 450 meter. Terak (scoria) lava, kerucut lava, kubah lava dan hamparan lava adalah sebutan jenis – jenis gunungapi yang paling menonjol, sedangkan gunungapi strato sangat jarang atau hampir tidak ada. Sebaran gunungapi pada umumnya tidak beraturan, tetapi tidak menutup kemung-kinan sebaran gunungapi tersebut berkelompok. Kondisi sebaran gunungapi tersebut berdasarkan beberapa penelitian menyebutkan bahwa gunungapi terbentuk bersamaan dengan tumbukan dan pemekaran lempeng, sehingga gunungapi biasanya terbentuk pada sabuk pegunungan Alpen dan sabuk Pasific (gambar    ). Komposisi petrografi batuan penyusun gunungapi pada suatu daerah yang luas akan memiliki kesamaan, sehingga berdasarkan sebaran yang luas dan kesamaan petrografinya, maka jenis gunungapi dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu (1) kerucut dan sebaran kerucut serta hubungan bentuk kubah dan (2) plato dan dataran. Beberapa gunungapai ada yang membentuk sebagian kubah lava dan sebagian lagi membentuk plato vulkanik. Selanjutnya tampilan negatif hasil letusan berupa kaldera yang sa-  ngat luas, sehingga terbentuk danau hasil dari letusan tersebut atau akibat penurunan (depresi) yang terbendung oleh lava yang mengeras.

Secara garis besar klasifikasi gunungapi berdasarkan letusan yang diajukan oleh Lacroix (1908) dan disusun kembali oleh Sapper (1931) adalah sebagai berikut :

Tabel      Jenis gunungapi berdasarkan letusannya.

 

JENIS GUNUNGAPI

 

KARAKTERISTIK

 

 

1. ICELANDIC

 

Letusan melalui rekahan, mengeluarkan aliran magma  basalt bebas, tenang, gas sedikit, menghasilkan volume lava yang besar, lava mengalir seperti lapisan pada daerah yang luas, sehingga membentuk plato.

 

 

2. HAWAIIAN

 

Letusan berasal dari rekahan, kaldera dan lubang kawah, lelehan lava diikuti dengan gas, letusan aktif tenang sampai sedang, lava dan gas mengalir dengan cepat sambil menyemburkan api, debu sangat sedikit, membentuk kubah lava.

 

 

3. STROMBOLIAN

 

Kerucut berlapis ((stratocones) sekitar kawah, letusan sedang, berlanjut, melepaskan gas  tidak teratur, me –    nyemburkan gumpalan lava, menghasilkan bomb dan terak (scoria) lava, kegiatan letusan berulang – ulang, dengan semburan lava dan awan panas (seperti uap air) yang naik sampai pada ketinggian tertentu..

 

 

4. VULCANIAN

 

Kerucut berlapis pada bagian tengah saluran magma, kumpulan lava lebih kental, lapisan lava tertumpuk diantara letusan, gas terkumpul di bawah permukaan, letusan bertambah hebat dengan waktu yang cukup lama, sampai terak (scoria) lava hancur, lubang saluran magma bersih. Semburan bomb, batuapung dan debu, lava mengalir dari puncak menuruni lereng setelah letusan utama, awan bercampur debu yang pekat tersembur ke udara membentuk seperti cendawan, debu berlapis sekitar lereng puncak gunungapi. (catatan : letusan pseudo vulkanik memiliki ciri yang sama, tetapi hasilnya menjadi lain (contoh: Hawaiian), yaitu menjadi  phreatic dan meng- hasilkan kabut uap yang sangat luas, membawa fragmen – fragmen lain).

 

Lanjutan tabel ……

 

5. VESUVIAN

 

Letusan lebih hebat daripada jenis strombolian atau vulcanian, letusan hebat terjadi dengan melepaskan gas dari lubang saluran magma yang berbentuk kerucut berlapis (Stratocones), terjadinya letusan setelah gunungapi istirahat cukup lama, saluran magma cenderung menjadi kosong dan cukup dalam, pada suatu letusan lelehan lava menyebar (pada bagian atas mengkilat) disertai dengan semburan asap seperti cendawan yang terus menerus membentuk lapisan debu pada ketinggian tertentu.

 

 

6. PLINIAN.

 

Letusan lebih hebat daripada letusan vesuvian, pada fase utama yang terakhir menyemburkan gas dengan cepat membentuk awan seperti cendawan tegak lurus setinggi beberapa kilometer, menyempit pada bagian bawahnya dan di bagian atasnya menyebar sambil menyebarkan debu.

 

 

7. PELE’AN

 

 

Menghasilkan lava kental bertekanan tinggi, letusan jarang terjadi, saluran magma gunungapi jenis strato terhalang oleh kubah lava atau lava penyumbat, gas keluar rekahan – rekahan lateral (lereng gunungapi) atau dari saluran yang telah mengalami penghancuran penyumbatnya; debu dan fragmen – fragmen bergerak menuruni lereng dalam satu atau lebih letusan sebagai “nue’es ardentes” atau luncuran awan panas, langsung mengendapkan hasillnya.

 

Sumber : Van Zuidam (1985 dari Holmes,1975 dan Bullard,1962)

Berdasarkan Ollier(1970), jenis gunungapi dan kawah merupakan hasil endapan lava kental derajat tinggi dari suatu daerah yang sangat luas. Larutan magma (kaya Mg, Fe dan Ca) menguapkan H2O (uap), SO2 dan CO2 serta mengurangi potensi letusan. Magma yang bertemperatur tinggi mengalir keluar secara perlahan – lahan melalui celah – celah / rekahan – rekahan yang terdapat pada gunungapi, seperti rekahan yang disebabkan oleh “horst volcano tectonic” atau lahan yang tergali (R.W. Fairbridge, 1968). Magma kental (banyak mengandung SiO2 dan alkali) cepat dingin dan melekat, menyimpan lebih banyak gas.

Setelah gerakan magma pada saluran terhenti dan temperatur naik, tekanan gas menyebabkan kawah tua retak, sehingga dapat menyebabkan terjadinya letusan dan penumpukan debu, bara, serta terak (scoria) lava.Letusan biasanya terjadi dari lubang kawah tunggal yang biasa disebut dengan pusat letusan gunungapi. Terjadinya letusan gunungapi dapat dibedakan menjadi dua macam, antara lain  (1) monogenetik, yaitu letusan terjadi sekali, berupa letusan kecil, dan (2) poligenetik, yaitu letusan terjadi beberapa kali, sering menyemburkan lava secara berulang – ulang.

Letusan monogenetik selalu dihubungkan dengan jalur rekahan gunungapi, sebagai contoh jalur rekahan lava yang terbuka sekali, kemudian lava membeku dan muncul kembali di tempat lain. Poligenetik biasanya berhubungan dengan pusat gunungapi. Pada awalnya letusan terjadi dari kawah – kawah kecil kemudian kawah tersebut terkubur oleh limpahan / curahan kawah lainnya (sehingga kawah tumpang tindih) dan pada akhirnya lenyap karena letusan kaldera. Ketika letusan terhenti, endapan lava dan piroklastik membentuk strato vulkanik, lapisan lava dapat dilihat pada dinding – dinding kawah atau lereng – lereng kawah yang tererosi.

Gunungapi lava basa. Lava basa bersifat sangat cair, sehingga dapat menyebar dengan mudah dan meninggikan gunungapi. Ollier (1973) membedakan perisai lava , kubah lava, kerucut lava, gundukan lava dan lava datar (gambar 28). Hamparan batuan gunungapi, terbentuk oleh semburan lava basaltik dan dapat membentuk pilar lava seperti perisai besar, lereng landai (kurang dari 70) dan cembung. Kerucut parasit,  letusan lereng, dan letusan rekahan biasanya berhubungan dengan gunungapi perisai (gunungapi perisai merupakan pernyataan yang kurang tepat, karena merujuk kepada lava perisai, tetapi digunakan untuk gunungapi strato yang besar atau pada suatu lingkungan gunungapi).

Gunungapi berskala kecil  memuntahkan lava cairdan menghasilkan kubah cembung dari pada bentuk perisai, sehingga disebut sebagai kubah lava vulkanik. Perbedaan ukuran yang digunakan tidak baku, dan beberapa penulis kadang – kadang mnggunakan perisai atau kubah. Pusat letusan pada skala kecil menyebabkan sisi kerucut lurus dan aliran lava biasanya memiliki kemiringan lereng yang landai (kurang dari 70) , tetapi ada juga beberapa contoh yang relatif curam. Gunungapi basaltik tidak dicirikan oleh kawah, tetapi memiliki ciri berupa gundukan lava yang berlereng landai. gundukan lava tersebut sebagian menunjukkan bentuk yang tajam, mencerminkan telah mengalami erosi yang kuat.

Gunungapi basaltik tidak memiliki kawah, tetapi menghasilkan lelehan lava yang keluar melalui dari rekahan – rekahan. Beberapa gunungapi dibedakan kerucutnya oleh rekahan yang bertindak menjadi kawah dan dapat dinyatakan sebagai gundukan lava (“lava mounds“) yang memiliki kesamaan dengan gundukan terak (“scoria mounds“).  Di Victoria (Australia) ada beberapa kelainan gunungapi yang telah diteliti, dan gunungapi tersebut membentuk lava yang mendatar (“lava disc ) yang terbentuk dari lava basal dan keluar melalui rekahan – rekahan yang tegak lurus terhadap permukaan lava yang ada di atas dan sisinya (Ollier, 1970).

Gunungapi lava asam. Batuan bekuan asam pada umumnya sangat pekat dan apabila batuan bekuan asam ini tidak terlontarkan oleh suatu letusan gunungapi, maka magma ini akan mengalir melalui rekahan – rekahan membentuk sejumlah bentuklahan ( gambar 30).

Pada saat lava yang pekat dismburkan, maka akan menyebar dan membentuk gundukan cembung yang dikenal sebagai kubah kumulus (“cumulo dome“) dan ini tidak berdiri sendir, tetapi membentuk kelompok intrusi pada endapan piroklastik.

Istilah “mamelon” sering diterapkan untuk kubah kumulus, tetapi Cotton (1944) menyebutkan bahwa “mamelon” adalah kubah kumulus yang terbentuk oleh letusan dengan aliran material lava trakhitik dan “mamelon” sama seperti kubah kumulus yaitu tidak memiliki kawah,

Tholoid ” mengacu pada kubah kumulus atau mamelon yang berasal dari dalam kawah besar gunungapi dengan ketinggian dan diameter beribu – ribu meter yang tertutup oleh runtuhan atau mungkin bentuk kubah yang menyimpang menjadi kasar dan tidak memiliki kawah. Formasi ” tholoid ” pada kawah tidak mencirikan akhir dari suatu aktifitas gunungapi karena terbentuk dan hancurnya ” tholoid ” berlangsung selama pertumbuhan gu -nungapi.

Lava kental yang menyembur dari saluran memiliki sifat sangat kaku dan bergerak seperti batang lurus (piston), sehingga menghasilkan tubuh yang membulat dan panjang disebut sebagai kubah penyumbat. Kerucut kubah penyumbat berkembang dengan cepat, tetapi pertumbuhannya hancur oleh letusan dan pecah karena tidak seimbang pada saat tumbuh dan kumpulan pecahan dari letusan punggungan karena beberapa kubah penyumbat ditutupi oleh tumpukan batuan rombakan yang membentuk seperti endapan longsor sekitar lereng dengan batuan berbentuk pilar membentuk sudut hampir datar.

Kubah penyumbat yang memiliki ukuran besar mendekati ukuran pegunungan merupakan letusan dengan skala lebih kecil dari lava yang sa-ngat kaku, selanjutnya rekahan pada permukaan kubah penyumbat atau kubah kumulus muncul membentuk punggungan.

Gunungapi piroklastik. Letusan gunungapi menghasilkan pecahan – pecahan (fragmen – fragmen) lava yang berjatuhan dekat lubang kepundan, pecahan – pecahan lava tersebut membentuk gumuk rombakan dengan lereng sesuai dengan sudut pembentukan gumuk rombakan tersebut. Partikel – partikel halus diendapkan pada lereng lebih bawah dibandingkan dengan partikel – partikel kasar, sehingga pecahan – pecahan kasar terkumpul dekat lubang kepundan. Bentuk lereng yang indah seperti di Fujiyama (Jepang) dan Mt. Egmont (New Zealand).

Ollier (1973), membedakan lima jenis gunungapi piroklastik menjadi kerucut terak (“scoria cones“), gundukan terak (“scoria mounds“), kumpulan kerucut terak (“nested scoria cones“), kerucut littoral (“littoral cones“) dan maar. Kerucut terak yang ideal adalah kerucut tunggal yang memiliki lereng lurus atau sisi – sisinya cembung melandaidan kawah di bagian puncaknya. Bibir kawah yang datar memperlihatkan seakan – akan kerucut terak memiliki puncak yang datar jika dilihat dari jarak jauh. Kerucut terak terbentuk sangat cepat, karena pada tahap akhir letusan gunungapi yang memiliki magma basaltik cenderung membentuk kerucut terak.

Beberapa terak gunungapi tidak memiliki kawah sebenarnya dan biasanya dinyatakan sebagai gundukan terak (“scoria mounds“) yang terpisah dari kerucut terak normal (“normal scoria cones“). Kerucut terak dihasilkan dari akhir suatu letusan gunungapi yang cukup besar. Jika posisi terak terletak di tengah kawah atau kepundan yang sangat besar, maka disebut sebagai kumpulan kerucut terak (“nested scoria cones“), penampang melintang antara kerucut bagian dalam dengan dinding kawah disebut “fosse“.

Saat lelehan lava bersentuhan dengan laut, maka akan terjadi letusan dan semburan pecahan lava, sehingga pecahan lava tersebut membentuk tumpukan pecahan lava yang disebut sebagai kerucut litoral (“littoral cones“) dengan ketinggian 100 meter dan memiliki diameter 1 kilometer. Sering ditemukan satu atau dua bukit yang terbentuk pada sisi aliran lava                   ( Wentworth dab Macdonald, 1953). “Maars” atau kawah bekas letusan adalah bentuklahan yang disebabkan oleh letusan gunungapi, terdiri dari kawah sampai bagian yang paling bawah, luas dan dalam. Disekitar bibir kawah dibentuk oleh semburan material – material piroklastik, batuan bekuan atau batuan dasar dan sering dicirikan oleh bentuk endapan besar asimetris yang searah dengan arah angin pada kawah tersebut. Pada penampang akan tampak bagian sisi yang curam mengarah ke kawah dan lereng yang berlawanan arah dengan lereng curam memiliki kemiringan yang landai (umumnya 40 atau kurang) membentuk lapisan piroklastik yang relatif sejajar dari arah kawah. Kawah sering memeiliki diameter 1 kilometer dan ketinggian bibir antara 50 sampai 100 meter. “Maar” biasanya terdapat bersama dengan endapan batuan bekuan basal dan kawah bagian bawah ditutupi oleh air membentuk danau.

Letusan gunungapi campuran. Pada beberapa gunungapi sering ditemukan endapan campuran antara lava dengan fragmen dan gunungapinya disebut sebagai gunungapi strato (“strato vulcanous“). Beberapa gunungapi besar di dunia seperti Gunungapi Visuvius, Fujiyama, Egmont dan sebagainya merupakan gunungapi jenis strato. Seperti umumnya gu –         nungapai, maka gunungapi jenis strato juga memiliki periode letusan yang panjang selaras dengan aktifitas gunungapi tersebut. Kerucut – kerucut yang tertoreh kemudian membentuk parit erosi dan menjadi alur mengalirnya lava. kerucut – kerucut terak (“scoria cones“) terbentuk disekeliling puncak gu –    nungapi dan aliran piroklastik serta endapan jatuhan tersebar secara luas disekitar lereng – lereng gunungapi.

Gunungapi gabungan. Campuran gunungapi yang tampak sempurna adalah gunungapi yang memiliki campuran bentuk lava dan terak (“scoria“), tetapi tidak sesederhana kumpulan suatu lapisan lava. Banyak bukit campuran secara genetik memiliki hubungan yang sama pada awalnya berdiri sendiri, kemudian karena tumpang tindihnya endapan hasil letusan (erupsi) yang tidak memiliki hubungan antara satu letusan dengan letusan lainnya dengan umur yang berbeda mengakibatkan bukit – bukit tersebut menjadi satu, (Ollier, 1970).

Kerucut parasit (“parasit cones“) biasa disebut sebagai kerucut “adventive” dan kerucut kedua dapat berkembang apabila gunungapi memiliki tekananyang sangat besar agar dapat mengeluarkan lava mengalir melalui rekahan – rekahan yang mudah dicapai ke permukaan dan meletus pada lereng – lereng utama gunungapi. Sekali letusan gunungapi terjadi, maka endapan lava yang bertindak sebagai penyumbat lubang kawah hancur, sehingga memberi peluang keluarnya lava dan letusan selanjutnya akan menjadi mudah.

Sesar, rekahan dan punggungan terbentuk pada sayap – sayap gunungapi, sehingga lava dapat mengalir melalui rekahan – rekahan dengan sifat letusan dari rekahan tersebut. Kawah yang terdapat dipuncak gunungapi telah membentuk percabangan pada bagian dindingnya, sehingga dijadikan alur keluarnya lelehan lava atau kegiatan letusan. Pada suatu kawah yang luas dapat terdiri dari satu atau lebih gundukan kerucut atau kawah. Pada beberapa daerah terbentuk sejumlah kerucut terak (“scoria cones“)  secara bersamaan dengan mekanisme terbentuknya kerucut parasit (“parasit cones“) ; sebagai contoh : jika kerucut yang pertama menutupi saluran magma (“vent“), maka akan terbentuk saluran magma (“vent“) baru. Perbedaanya adalah tidak terjadi pertumbuhan kerucut yang berukuran besar, misalnya : tidak tampak gunungapi utama, tetapi yang tampak adalah rangkaian gunungapi, sehingga disebut sebagai rangkaian kerucut (“multiple cones“).

Cryptocones” adalah gunungapi yang memilikilubang kawah atau bibir kawah yang kasar dan kadang – kadang ditemukan lapisan material gunungapi yang tebal, tidak ditemukan batuan beku yang memiliki struktur yang dibentuk oleh pelepasan gas tau tampilan permukaan saluran magma (“vent“) tidak sampai ke permukaan.

Kawah meteorit memiliki bentuk permukaan yang sama dengan gunungapi, tetapi cara terbentuknya bukan diakibatkan oleh gunungapi, melainkan oleh jatuhan meteor ke permukaan bumi, kemudian meledakdan letusannya memberi dampak seperti bentuk kawah tersebut. Batuan meterorit yang jatuh membentuk kawah jarang ditemukan disekitar bibir kawah, karena pecahannya menyebar jauh dari bibir kawah. Ciri lain dari meteor yang jatuh ke permukaan bumi adalah kenampakan fragmen batuan dasar pada bibir kawah menjadi miring akibat benturan meteor yang jatuh tersebut.

Kaldera adalah depresi (cekungan) gunungapi yang sangat luas berdiameter mencapai 5 kilometer. tiga jenis utama kaldera yang dikenal, yaitu kaldera runtuhan, kaldera letusan dan kaldera eosi. Kaldera runtuhan selanjutnya dibagi menjadi jenis Karakatau atau kaldera runtuh karena suatu letusan dan jenis kaldera Glencoe taua kalderayang mengalami penurunan (“subsidence“) (ganbar 32). Pada jenis kaldera glencoe, penurunan tidak diikuti dengan letusan abu, tetapi rekahan yang mengisolasi bagian tengah yang melingkar menyebabkan terjadinya terobosan ( intrusi) lateral atau jalan keluarnya lelehan lava.

Kaldera hasil dari letusan sangat jarang, tampilan letusan gunungapi yang membentuk kaldera sebenarnya hanya dapat menghasilkan kaldera dengan garis tengah kurang dari 1,5 kilometer. sedangkan kaldera yang berdiameter besar merupakan hasil dari beberpa kali letusan. Selanjutnya jenis ketiga adalah kaldera erosi, yaitu kaldera yang memiliki luas akibat erosi terhadap dinding kawah. Kaldera erosi akan hilang selaras dengan pemebntukkan kaldera baru oleh proses yang berbeda (bukan erosi), seperti runtuhan atau penurunana (subsidence).

4.1.3.1 Aliran lava dan tampilan lava minor

Jenis lava. hasil utama gunungapi adalah lava, debu atau tufa, semburan gas dan asap. Lava silika kental cenderung membentuk kubah kumulus atau “coulees” atau letusan material piroklastik, sedangkan lava yang lebih cair membeku membentuk seperti lapisan meninggalkan jejeak seperti aliran lava (Ollier, 1970). Selaras dengan kenampakan permukaan lava, maka aliran lava diklasifikasikan menjadi aa pahoehoe, a a, lava blok dan lava bantal (gambar 33).

Lava pahoehoe adalah jenis lava cair dengan sedikit berbusa dan pada lapisan permukaannya yang tipis mendingin membentuk lipatan akibat gerakan lava yang meleleh pada bagian bawahnya, hasilnya adalah lava seperti kulit hiu dan lilitan sejajar yang pijar, seperti melilit pilar

Lava a a (dibunyikan ah ah) adalah lava berbentuk blok, berbusa dan bergerak secara perlahan. lapisan lava cukup tebal, pecah membentuk blok – blok yang saling bertumpuk dan masiv, lava seperti bubur saling bertumpang tindih. Aliran lava yang mengalir secara perlahan – lahan membentuk timbunan seperti bongkah – bongkah dan bergerak mengeluarkan suara deru yang cukup keras. Lava a a dan lava blok memiliki persamaan, tetapi Fe’nch (1933) dan Macdonald (1953) membedakan antara a a karena bentuknya seperti kerak besi yang melintir dengan blok lava yang memiliki bentuk blok – blok yang menyudut. Jika aliran lava masuk ke dalam air atau terjadi letusan gunungapi di bawah permukaan air, maka biasanya terbentuk struktur khusus yang disebut sebagai lava bantal (“pillow lava“). Lava mendingin dengan cepat, sehingga membentuk lava yang mengkilat seperti kaca, tetapi lapisan kulit yang plastis terdapat menutupi lava yang cair bergulung seperti kantung plastik yang diisi penuh oleh larutan. Kantung – kantung yang berbentuk membulat seperti lelehan saus merupakan bantal dan biasanya saling bertumpuksatu dengan yang lainnya. Pada bagian puncak berbentuk membulat, tetapi pada bagian dasar yang masuk ke bagian dalam membentuk lapisan. Tampilan ini tampak sama dengan kilapan kaca, kulit tachylitic dan rekaha radial (gambar 34), membentuk bantal yang mudah dibedakan dari bentukkebundaran bongkah karrena pelapukan mengelupas bawang. Banyak lava bantal yang terbentuk dilaut, tetapi ada juga yang terbentuk pada air tawar (danau).

Tampilan lava minor. Pendinginan aliran lava menyebabkan penyusutan, sehingga terbentuk formasi kekar. penyusutan dan pembentukan formasi kekar ini tidak pernah terjadi pada massa lava seperti bubur, tetapi akan mencapai geometri yang sempurna pada sebaran larutan kental lava basal yang luas. Pengkerutan (kontraksi) terjadi ketika lava mendingin yang dicerminkan oleh garis – garis kekar memusat yang menjadi arah tekanan. Ketika pengkerutan (kontraksi) memenuhi ruang, maka rekahan – rekahan menjadi kekar, kemudian memebntuk pecahan heksagonal. Pola – pola kekar yang tegak membagi lava menjadi kolom – kolom tegak heksagonal dan pecah membentuk blok – blok karena rekahan  yang melintang.

Permukaan kekar tegak (vertikal) mempunyai jarak gores yang dikenal seperti bekas pahatan. Bentuk – bentuk kekar akibat aliran lava terbentuk didalam satu kumpulan, kemudian membentuk mega kolom dan selanjutnya kolom normal dan terakhir membentuk rekahan – rekahan yang saling berpotongan.

Secara alamiah bagian permukaan lava akan lebih cepat dingin dari pada bagian dalam (tengah) aliran lava, sehingga bagian permukaan tersebut akan mengkerut dan pecah. Pada aliran lava, blok – blok lava terangkut sampai ujung ujung aliran dan terbenam, sehingga gerakan aliran lava yang mendorong blok – blok lava tersebut membentuk celah – celah yang menjadi jalur aliran lava tersebut, sedangkan pada bagian atas dan bawah aliran lava tersebut membentuk bongkah – bongkah kerak. Selanjutnya pada saat bagian atas aliran lava mendingin secara tiba – tiba, maka aliran lava tersebut akan terputus membentuk ujung – ujung aliran (” toe“) yang baru atau membentuk satuan aliran yang baru. Pada bagian dalam (tengah) tubuh aliran yang mendinging perlahan – lahan masih bersifat cair dari pada bagian luar (tepi) dan akan bergerak setiap saat, sehingga dapat dibedakan bagian luar dan bagian dalam dari suatu aliran lava yang tampak dengan skala kecil.

aliran lava sangat berhubungan dengan kenampakkan topografi, sehingga aliran lava sangat cepat akan memenuhi lereng – lereng yang terjal. Selanjutnya aliran lava dapat bergerak pada lereng – lereng yang memiliki kemiringan landai, sedangkan pada lereng yang tegak membentuk aliran lava terjun seperti air terjun. Aliran lava yang sangat kental dapat menghancurkan penghalang – penghalang di jalur alirannya dan aliran lava yang relatif cair akan terbelokkan oleh lambatnya aliran lava kental yang bertindak seperti tangul – tanggul kecil. Kejadian bentuk – bentuk aliran lava sangat rumit, sehingga dapat menunjukkan bermacam – macam tampilan seperti lava yang berlapis, gua – gua lava dan bongkah – bongkah (gambar 35).

Salah satu bentuk lava (minor) dapat ditemukan pada ujung dari aliran lava (“TOE“), yaitu bagian paling depan suatu aliran lava yang berbentuk cembung dengan ketinggian 3 meter dan panjang dapat mencapai puluhan meter.

 

Presented by LUCKY HERJUNO ABIYOGA

270110090065