Leave a comment

GEOMORFOLOGI GLETSER

1. Karakteristik Gletser

Geomorfologi Gletser saat ini adalah kurang penting pengaruhnya pada zaman sekarang dalam membentuk bentuk tanah, kecuali di lintang tinggi dan pada ketinggian tinggi, tetapi gletser yang ada selama Pleistosen meninggalkan jejak pada banyak jutaan mil persegi pada permukaan bumi. Beberapa 4,000,000 mil persegi di Amerika Utara, 2.000.000 mil persegi di Eropa dan mungkin 1.500.000 mil persegi di Siberia adalah glaciated. Selain itu, banyak daerah rendah tertutup oleh tudung es ( ice caps) lokal. Ribuan lembah gletser ada di pegunungan di mana sekarang ada tidak baik gletser atau hanya sebagian kecil.

 

Beberapa pemandangan gunung terbaik kami adalah merupakan produk dari proses geomorphic glasial tingkat besar, seperti bentuk lahan dataran rendah banyak yang menarik. Glasiasi memiliki pengaruh yang signifikan terutama di bagian padat penduduk di timur-tengah Amerika Utara dan utara-barat Eropa. Selain itu, seperti yang diungkapkankan dalam Bab 2, pengaruh zaman es Pleistosen jauh melebihi efek langsung glasial erosi dan deposisi.

Pemikiran kita tentang Pleistosen Glasiasi telah berubah sangat sejak zaman Venetz, Charpentier, dan Agassiz (lihat p.8). Setelah bertahun-tahun berbeda pendapat, tampaknya ada kesepakatan bahwa zaman Pleistosen terdiri dari empat zaman es glasial besar yang dipisahkan oleh usia interglacial, mungkin jauh lebih lama dari pada Glacial. Glasiasi terakhir, atau mungkin lebih tepatnya terbaru, jika kita tidak mengesampingkan kemungkinan bahwa kita hidup di waktu interglacial, telah meninggalkan jejak yang paling jelas atas topografi kita, tetapi efek dari Glasiasi sebelumnya masih terlihat di banyak tempat.

2. Glasiasi Kontinental

Glasiasi Kontinental dapat menghanyutkan, mentransport dan mengendapkan material. Glasiasi kontinental disebabkan oleh iklim, ketinggian, curah hujan dan aktivitas atmosfer (CO2 yang berlebihan). Dilain pihak, tutupan lahan yang bagus dengan vegetasi-vegetasi yang beranekaragam akan mengakibatkan penipisan kadar karbondioksida di atmosfer. Para geolosists telah mempelajari kumpulan gletser di daerah-dearah umum dan antaritika, tempat ini adalah satu-satunya yang menyajikan contoh dari lempeng es yang baik. pembahasan ini, bagaimanapun belum menjelaskan penyebab glasiasi kecuali bila kita telah menelaah lebih dalam dan teliti mengenai ketebalan dari satu lembar es, laju gerak, proses dari pengikisan dan mengangkut materi, dan sifat alami yang tersimpan tersimpan.

Glasiasi tersebar luas terjadi dalam beberapa kali sejak dahulu dalam lapisan tanah. Lautan dan tubuh air lain memperlihatkan keseragaman. Glasiasi geologi berhubungan dengan area yang luas. Glasiasi yang besar terjadi di daerah Siberia dan Asia utara, dan daerah lain yang mempunyai iklim yang paling ekstrim, sedangkan di Eropa glasiasi mengalir ke laut dan pada beberapa tempat di sungai dan di laut terdapat endapan. Di Asia kemiringan lereng dan suhu di daratan yang ekstrim menyebabkan pengendapan gletser berlimpah. Ini mungkin di karenakan glasiasi pegunungan Alpen, tetapi berbeda dengan kontinental hebat yang terjadi di daerah Eropa dan Amerika Utara yang mana diakumulasi pada perbedaaan ketinggian suatu negara dibandingkan es tersebut.

Pergantian arah dan volume dari arus samudera mungkin dapat mempengaruhi perubahan iklim dan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi proses glasiasi di Eropa. Ada atau tidak ada teori itu yang pasti hal tersebut telah terbukti bahwa perubahan tersebut terjadi.

Dikarenakan atmosfer yang tertentu telah ada. peningkatan dari karbondioksida pada atmosfer menghasilkan iklim lebih dingin karena gas, uap air. Gas-gas tersebut berfungsi sebagai pelindung dan mencegah pancaran dari panas dari bumi. Limestone (batu gamping) di laut melalui aktivitas organik melakukan pelepasan jumlah besar dari karbondioksida ke athmosphere. Karbondioksida pada air adalah faktor penting dalam mengikat limestone, jika kandungan limestone dilaut luas maka ini jelas merupakan sumber-sumber karbonsdioksida yang terdapat pada atmosphire. Oleh karenanya laut dengan luas yang besar akan menghasilkan iklim yang cenderung dingin.

Kelebihan dari udara ini adalah untuk menghalangi masuknya sinar matahari yang masuk dan oleh sebab itu suhu di bumi menjadi agak lembut/sejuk. Beberapa gejala astronomis seperti perubahan panas yang disebar oleh matahari. Gerakan dari udara dan geseran dari kutub akan kemungkinan terjadinya glasiasi. Namun sejauh ini, hipotesa yang benar mengenai penyebab glasiasi masih belum diketahui.

3. Pembentukan Gletser di Daerah Benua

Effek topografi dari pembentukan gletser di dataran benua tidak begitu banyak pengaruhnya dari es yang ada di daratan seperti pengaruh gangguan dan tidak mempengaruhi sistem drainase dari aliran. Longsoran dari es di dalam ilmu topografi hampir bisa dikatakan tidak penting contohnya di Kanada yang merupakan sebuah barisan pegununggan tua dan luncuran es disana semakin keluar dari area, namun itu tidak lantas bisa disimpulkan bahwa lucuran es mengangkut jauh material dari gunung. Luncuran es melapisi lapisan atas sehingga mendatarkan pegunungan, selain itu gletser membentuk effek abrasi es, walaupun demikian sangat besar sekali kuantitas dari sisa tanah yang terangkat oleh es dan ditransport sangat jauh.

Terdapat pembatas di dekat aliran bahkan meskipun di jurang yang lebih lebar seperti yang sekarang ditempati oleh danau besar, erosi gletser telah menjadi hal yang biasa di daerah kutub-kutub besar, mirip dengan aktifitas erosi gletser di daerah pegunungan, sisa akumulasi dari luncuran es benua adalah berupa topologi yang sederhana. Contohnya adalah terdapatnya marine sangat kecil di bandingkan dengan gletser pegunungan, jarang yang memiliki tingginya 100 kaki. Permukaan dari gletser lebih rumit dan menyingkap sebuah variasi bentuk dari gletser di setiap waktu yang berbeda. Variasi dari akumulasi glacial mempunyai istilah sebagai berikut :

• Drumlin

adalah bukit yang berbentuk oval, seperti setengah telur yang terdiri atas massa pasir dan batu kerikil (orogenesa). Bentuk-bentuk drumlin, yaitu:

1. Paralel Kampak

2. Menyerupai bukit ( rocdrumlin)

3. Kumpulan Drumlin disebut ” Swarp”

• Landform of Fluvio glacial Deposition :

1. Kames

2. Kames Terraces

3. Kames Delta

4. Eskers

• Deposit Fluvioglasial

1. Ketlle Holes

2. Brainded Streams

3. Varves

Konsep menganai glasiasi ini harus di pelajari secara menyeluruh dan integral dan tidak parsial sebab semuanya berhubungan antara satu dengan antara lainnya, untuk mangerti setiap kejadian dan kondisi dari wakatu gletser. Penyebab dari gletser tidak berubah, mengantipasi boleh jadi ada satu atau dua teori telah tidak digunakan secara permanen. Terakhir, sesuatu yang membawa aliran gletser terdapat di dataran tinggi dan effeknya berdampak luas di semua bagian ini.

4. Bentuk dan gerakan dari gletser kontinental.

Icecaps di Greenland dan Antartica diduga mempunyai glasiasi yang lambat. Sebagai contoh, motraine di Winconsin dan Montana di timur Amerika Serikat, muncul diantara 50 dan 300 kaki per mil. Icecaps menyebar radial, karena pola radial, pergerakan angin dan curah hujan dihasilkan dari tekanan rendah di bagian tengah dan terus menuju ke bagian tepi dari region. Perubahan terakhir dari lembaran es tertutup sebagai danau, rawa-rawa, tanah berlumpur dan penggangguan garis drainase. Kita mengetahui bahwa gletser kontinental adalah terjadi di daerah yang rendah, atas kubah es berbentuk datar, dengan ketinggian kurang lebih 2 mil dan terdatarkan oleh tekanan tinggi. Akibat tekanan tinggi ini, maka angin keluar, membawa salju ke daerah batas luar, berkumpul dan membeku. Pada saat yang sama daerah tersebut memiliki slop kemiringan. Sedangkan pengendapan gletser terjadi akibat adanya tekanan rendah, yang dari waktu ke waktu pengendapan ini terus terjadi dan daerah yang paling banyak pengendapannya yaitu di daerah hilir.

Pada saat terdapat rekahan yang tidak mempunyai celah maka gleser meluap luas ke permukaan dari satu aliran es tebal dan oleh karenanya pembangunan karang dengan maksud untuk menahan laju aliran adalah mustahil untuk dilakukan. Satu gundukan es besar di suatu daerah dapat mengikis dan menutup lapisan tanah yang ada sebelumnya. Menggiling permukaan dan batuan dasar sepanjang gletser ini mengalir sampai es ini meleleh.

Gumpalan es secara konstan dapat berubah bentuk dan volumenya, sesuai dengan daerah topografinya. Di dataran rendah es melebar dan menjulur. Ketika dalam keadaaan seimbang dan melelehan, gerakan es berhenti dan satu pusat es terbentuk, tetapi bukan sepanjang hulu es front. Kejadian di hulu tidak selalu berbarengan dengan sesuatu sebelumnya, dan ini dicerminkan pada pola marine.

• VARVES

Varve merupakan timbunan tahunan dari pasir, lumpur, dan tanah liat yang diendapkan di danau oleh air glacial. Lumpur yang kasar ditiap-tiap varve terletak paling dasar dan lumpur tersebut diatur selama musim panas. Tanah liat terletak paling atas dimana tanah liat tersebut diatur selama musim dingin secara perlahan-lahan. Ketebalan dari varve sekitar 1/8 inchi sampai ½ inchi atau bahkan lebih tergantung pada kondisi curah hujan.

• EROSI GLASIAL

Lempeng es benua merupakan agen erosi yang mampu mengikis tanah dan mengangkut batuan dan meninggalkan material (endapan tebal). Erosi yang terjadi terlihat dari adanya glacial grooves, glacial striae; terkikisnya permukaan batuan oleh chatter marks; tidak adanya sisa tanah; aliran es yang alirannya terletak pada bagian yang tajam di atas batuan dasar; banyaknya hanyutan yang lebih besar dari endapan yang mungkin jika tidak terdapat erosi: adanya fresh rock pada hanyutan ini, yang satu sebagai batas ujung dan satu laginya sebagai lantai; posisi rock basins yang tidak mungkin terbentuk akibat erosi sungai.

• GLACIAL DEPOSITION: MORAINES

Moraines dikelompokkan berdasarkan posisinya terhadap lempeng es menjadi: terminal moraines (salah satu jenis moraines yang terbentuk jauh dari benua gletser (continental glacier), interlobate moraines, recessional moraines, dan ground moraines. Selain itu, moraines juga dikelompokkan berdasarkan material penyusunnya, yaitu: till moraines, waterlaid moraines, delta moraines dan kame moraines.

• PENGENDAPAN SUNGAI ES: `DRUMLINS`

`Drumlins` merupakan bukit berbentuk oval menyusun sebagian besar dari lahan es kecuali kadang kala meliputi `lenslike` berkumpul dengan kerikil dan pasir. mempunyai panjang paralel `axes` ke arah gerakan es dan biasanya terjadi bersama-sama. Kurang lebih terkumpul oleh satu cuping es keluar dari satu poros. berakhir, membentuk gletser, biasanya `blunter` dan lebih curam dibandingkan sisi tempat. Berlipat ganda, lipat tiga, dan kelipatan `drumlins` terjadi bersama-sama di semua posisi dan hubungan, Jarang `drumlins` membentuk ekor pada saat sesuatu lebih besar atau bangku di sisi diantara mereka. agregasi `drumlins` membentuk `drumlins` lahan atasan.

Gerakan es berurutan tidak menghancurkan `drumlins` sebelumnya bahkan sebaliknya malah bertambah, tambahan sering terjadi pada satu sisi berbeda dari `drumlins` tersebut.

• Asal Mula`Drumlins`.

Beberapa teori telah ditemukan mengenai untuk asal mula terbentuknya `drumlins`, kebanyakan menyatakan bahwa `drumlins` adalah endapan alami di bawah

• Pembentukan `Drumlins`.

Kebanyakan `drumlin` berada tidak biasa berlimpah-limpah. Di selatan sebelah timur `Wisconsin` terdapat sebuah bukit-bukit besar meliputi beberapa daerah. Ratusan diantara mereka dapat dilihat di antara `Madison` dan `Milwauke`, diantaranya dijadikan daerah pertanian. Bukit batu bara didekat `Boston` adalah salah satu satu dari morfologi `drumlin`. Dan di `boston` kebanyakan teluk pulau terbentuk dari morfologi ini. Pada pelabuhan luar terdapat enam atau delapan pulau `drumlin` telah dikikis oleh gelombang dan disatukan oleh halang ke dari kompleks `Tombolo`. Selain itu pula banyak terdapat di sepanjang pantai selatan dari danau `Ontario` di sebelah utara `New York`, Michigan` utara.

5. Fluvio Glasial

Aliran muncul dari gletser yang meleleh membawa kerikil, pasir, dan jika slop kemiringan dari bukit es ke daerah cukup landai, maka aliran berlanjut membawa material tersebut ke hilir sejauh beberapa mil. Endapan ini dengan demikian dibentuk mendasari outwash sederhana, tanah endapan, dan delta sederhana.

Darimana bentuk sederhana outwash mempersempit isi pada alas dari lembah ada sebelumnya mereka dipanggil lembah berlatih dan mungkin meluas nilai dari mil depan es ke dalam bukan negara glaciated. di tempat lain outwash sederhana mungkin membentuk berfusi endapan menghembus tanah yang menutup seluruh wilayah sejauh beberapa mil.

Dataran outwash berbintik bintik bersela, banyak yang mengandung danau atau genangan. Keadaan ini bervariasi dari beberapa kaki sampai mil ke seberang dan tidak memiliki bentuk yang beraturan. Beberapa dataran punya lubang sangat sedikit, secara luas dan lebar. Sedangkan yang lainya mempunyai aspet yang bersumber dari daerah pusat marine.

Esker adalah bukit punggungan hasil endapan dari arus glacial dalam terowongan es. Adapun kame adalah bukit bulat atau bukit mengerucut yang tersusun dari kerikil atau pasir, diendapkan sebagai kerucut delta, hasil endapan dari penurunan massa di sepanjang punggungan es. Crevase filling adalah punggungan material air yang mengalir ke segala arah, biasanya berasosiasi dengan teras danau dan diendapkan dalam sebuah celah yang lebar. Esker dan crevase filling tidak selalu dapat dibedakan satu sama lain. Keduanya sama-sama memiliki sisi yang curam dan sempit, sisi lereng yang tersusun dari pasir dan kerikil memiliki kemiringan sekitar 30%. Esker biasanya berada di daerah rendah dengan dataran yang berpaya. Tanah di salah satu atau kedua sisinya biasanya membentuk semacam depresi yang biasa disebut palung esker (esker through). Esker dapat terletak di seluruh jenis permukaan. Ia mengabaikan adanya topografi atau cegahan bukit yang yang ratusan kaki tingginya. Banyak esker yang terpendam oleh pengunduran morena.

Adapun crevase filling, biasanya mengandung pasir dan lumpur, yang khususnya bergabung dengan endapan danau. Transisi antara esker dan crevase filling, terpisahkan oleh adanya kame yang merupakan hasil endapan Moulin dimana air mengalir melalui lubang es yang kemudian menurun kearah dasar lembaran es.

6. Mencairnya Gletser

Bentang alam glacial di Alaska merupakan bentang alam Continental Glaciation karena daerah ini wilayahnya tertutup oleh gletser. Pada daerah Alaska, terdapat ice sheet yang tidak mengalir pada valley glacier tetapi menutup daratan lebih dari 50.000 km. Isheet dan ice cap mengalir ke bawah dan keluar dari pusat (tertinggi). Alaska adalah sebuah pulau yang pada permukaannya terhampar berkilo-kilometer persegi salju atau es. Alaska ini merupakan salah satu tempat penyimpanan es terbesar setelah antartika.

Menurut riset para ilmuwan, Alaska terkena dampak dari pemanasan global, yaitu mencairnya es pada daerah Alaska ini. Diperkirakan jika es di Alaska terus mencair maka permukaan laut akan naik dan dapat menjadi bencana dunia karena dapat membanjiri pesisir bahkan seluruh dunia. Hal seperti ini disebut dengan Negative Budget yaitu penurunan volume gletser.

Hal-hal yang menyebabkan turunnya volume gletser terutama adalah keadaan iklim atau cuaca pada suatu tempat. Kita ketahui sendiri bahwa Negara Amerika mempunyai 4 musim, musim gugur, musim panas, musim semi dan musim dingin. Musim dingin atau musim yang popular karena adanya salju yang jatuh ke bumi. Turunnya salju ke bumi ini secara besar-besaran akan membuat salju-salju tersebut mengalami kompaksi menjadi sebuah kesatuan yang kuat yaitu gletser. Gletser ini mengalami positive budget setelah hujan salju turun.

Pencairan es di Alaska diimbangi oleh pembentukkan di puncak gletser yang merupakan sumber es. Dengan kata lain, setiap negative budget harus selalu terdapat positive budget agar imbang. Tetapi karena pemanasan global, gletser yang mencair jauh lebih banyak dibandingkan dengan gletser yang tebentuk. Jadi keseimbangan atau balanced budget terganggu.

Proses pencairan es diawali dengan pecahnya balok-balok es raksasa yang dapat terpecah-pecahkan karena sifat air yang membeku. Sifat tersebut adalah bertambahnya volume air pada saat menjadi es. Pada permukaan gletser terdapat celah-cleah yang mencapai dasar gletser. Es yang mencair akan menjadi air akan masuk ke celah-celah gletser ini. Air yang masuk ini kemudian membeku. Air yang membeku memiliki volume yang lebih besar daripada pada saat masih berbentuk cair sehingga air yang membeku ini mendorong es disekitarnya dan membuat gletser pecah.

Para ilmuwan merasa kesulitan untuk mencegah hal ini, karena untuk menghentikan pencairan ini maka harus dilakukan penghentian pada pemanasan global. Hal ini sangat sulit pada masa sekarang karena aktivitas-aktivitas pengerusakan alam sudah sangat umum dan tak terkendalikan walaupun masih ada upaya-upaya pengurangan pemanasan global. Untuk itu dunia sedang mengusahakan pengurangan emisi gas buang dari perindustrian terutama negara-negara maju.

Antartika juga semakin terancam oleh pemanasan global proses pencairan es di Antartika berlangsung lebih cepat karena seluruh permukaan Antartika adalah es tidak seperti Alaska. Hal ini menyebabkan bertambahnya kecepatan pencairan dikarenakan sifat es yang lainnya, yaitu es lebih mudah bergerak di atas permukaan cair dibandingkan di atas permukaan padat. Gletser di Alaska berada di atas permukaan padat (dataran), tetapi di Antartika es langsung berada di atas permukaan laut. Es yang berada di atas air mengalami pergerakan yang lebih cepat dibanding es yang berada di atas permukaan padat. Ini menambah faktor yang menyebabkan es pecah. Jika es di Antartika pecah, maka balok es raksasa akan terapung di laut dan mengalami pencairan yang lebih cepat karena langsung dan volumenya yang lebih kecil dibanding volume air laut.

Mencairnya salju di Alaska member pengaruh yang sangat besar terhadap luas lapisan es yang terus berkurang dan terhadap tinggi permukaan laut dan juga kedalaman lautan di seluruh dunia. Sebagian air yang dihasilkan dari salju yang mencair juga akan mengalir ke dalam gletser melalui patahan-patahan dan alur lubang vertikal (Moulin), kemudian mencapai lapisan batuan di bawahnya dan mencairkan lapisan es di atasnya.

The United States Geological Survey (USGS) menerapkan jangka panjang program “patokan” gletser untuk memantau iklim, gletser geometri, gletser massa saldo, gletser bergerak, dan streaming run off. Data yang dikumpulkan digunakan untuk memahami gletser yang berhubungan dengan proses hidrologi yaitu peningkatan prediksi kuantitatif dari sumber daya air, gletser yang terkait dengan bahaya, dan konsekuensi lainnya dari perubahan iklim. Pendekatan telah dilakukan pada program pemantauan ini pada tiga basin gletser yang luas yaitu Gulkana, Wolverine Glaciers, dan Cascade gletser.

Lalu pada daerah Greenland, Lapisan es seukuran benua di Greenland kian terkikis akibat angin dan arus yang dipicu oleh air yang bertambah hangat ke dalam ceruk, tempat terbentuknya pangkal gletser pantai, demikian hasil studi yang disiarkan awal pekan ini. Massa es yang berada di puncak Greenland menyimpan cukup banyak air untuk mendorong permukaan air laut global setinggi tujuh meter, sehingga berpotensi menenggelamkan banyak delta dan kota pantai di seluruh dunia.

Saat ini, permukaan air samudra naik sebanyak tiga milimeter per tahun, sedangkan pada awal 1960-an peningkatan ketinggian permukaan air lautan ialah 1,8 milimeter setiap tahun. Namun sumbangan Greenland telah lebih dari dua kali lipat dalam satu dasawarsa belakangan, dan para ilmuwan menduga perubahan iklim memainkan peran yang sangat besar, kendati bagaimana secara pasti itu terjadi masih menjadi perdebatan.

Sebagian teori menunjuk kepada temperatur udara yang naik lebih cepat di garis lintang utara-jauh daripada rata-rata global. Satu gagasan tandingan ialah perubahan arus dan perairan samudra sub-tropis yang bergerak ke arah utara mengikis landasan gletser pantai, menambah cepat alirannya ke laut, terutama gletser yang berada di banyak fjord di Greenland. Secara geologis, fjord adalah ceruk sempit yang panjang dengan lereng terjal, yang tercipta di satu lembah yang terbentuk oleh kegiatan gletser. Namun sejauh ini, semua studi itu telah lebih banyak dilandasi atas contoh matematika daripada pengamatan.

Satu tim ilmuwan yang dipimpin oleh Fiametta Straneo dari Woods Hole Oceanographic Institution di Massachusetts bergerak untuk membantu mengisi kekosongan data itu. Para peneliti tersebut, yang melakukan kegiatan pada Juli dan September 2008, melakukan pengukuran terperinci mengenai kandungan air di Sermilik Fjord, yang menghubungkan Helheim Glacier di bagian timur Greenland dengan samudra. Mereka mendapati air laut dalam yang mengalir ke dalam ceruk itu memiliki ukuran 3,0-4,0 derajat celsius cukup hangat untuk menerobos ke dasar gletser dan mempercepat lapisan es tersebut tercebur ke lautan. Peralatan yang ditinggalkan di ceruk itu selama delapan bulan memperlihatkan angin yang berkumpul di garis pantai memainkan peran penting dalam arus air yang lebih hangat tersebut.

Untuk daerah Antartika sendiri yang memiliki sekitar 90% cadangan es glasial dunia, Antartika telah lama dianggap dapat tahan terhadap pencairan yang telah terjadi pada selubung es di kutub yang berlawanan, Arktik. Namun, bukti baru menunjukkan bahwa lembaran es luas ini dapat menjadi tidak stabil dalam abad ini dan bahkan mereka telah mengalami periode kemerosotan yang cepat. Data dari program riset geologi bersama yang dikenal sebagai ANDRILL, yang melibatkan ilmuwan dari Jerman, Italia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat, kini menunjukkan bahwa kenaikan permukaan laut sedikitnya 61 meter dapat terjadi jika lembaran es di Antartika dan Greenland mencair seluruhnya.

Memeriksa data 20 juta tahun dari sampel inti es sepanjang 1.100 meter, kepala ilmuwan AS Dr. David Harwood mengamati bahwa lembaran es sepertinya meningkat dan menyusut secara dinamis dari waktu ke waktu, sementara ahli geologi AS Dr. Robert DeConto melihat implikasi genting dari ketidakstabilan es dan mengatakan, “Model kita mungkin menaksir terlalu rendah seberapa buruk itu akan terjadi… Kita melihat es mundur lebih cepat dan lebih dramatis daripada ramalan model manapun.”

Untuk es di kutub utara atau Artik, Kecepatan pencairan lapisan es Artik Kanada adalah indikator awal dari pemanasan global yang akan mengganggu kondisi semua umat manusia, kata ilmuwan terkemuka beberapa waktu lalu. Jadi, pencairan es di atrik yang paling dahulu terjadi, dan dijadikan indicator dari pemanasan global.

sumber: Lobeck, A. K. 1939. Geomorphology: An Introduction to The Study Of Landscapes. London and New York: Mcgraw-Hill Book Company.

 

Presented by Bagus Guspudin

270110097001

Software di Bidang Geomorfologi

Leave a comment

Software – software untuk GIS dan Remote Sensing :

 

Pada kesempatan ini akan dibahas mengenai ARCVIEW

ArcView adalah salah satu perangkat lunak desktop Sistem Informasi Geografis dan pemetaan yang telah dikembangkan oleh ESRI (Enviromental Systems Reasearch Institute. Inc.). Dengan ArcView, pengguna dapat memiliki kemampuan-kemampuan untuk melakukan visualisasi, meng-explore.

ArcView GIS software adalah pelopor dalam pemecahan dan solusi terhadap analisis dalam pemetaan. ArcView GIS salah satu solusi yang terpopuler dalam dunia pemetaan dan telah lebih dari 500.000 copy dipergunakan diseluruh dunia. Dengan ArcView GIS kita dapat berkreasi dengan dinamis terhadap peta – peta yang dibuat dan secara intelektual dengan cara memanfaatkan tampilan dan sumber data yang dapat di overlaykan dengan beberapa platform computer. ArcView GIS memuat tools dan data yang dapat dipergunakan kapan saja dalam membentuk platform dan seni pemetaan. Arcview GIS bekerja dengan tabulasi database yang bekerja sendiri dan dapat di aplikasi dengan sistem MS Excell.

Pemanfaatan teknologi GIS dalam lingkup yang luas meliputi kota, Negara dan pemerintahan, ArcView GIS mampu memanage zona lokal, pemanfaatan lahan juga untuk bidang – bidang property dan berbagai macam keperluan yang berbasis geografi. Bahkan saat ini pemanfaatan Arcview GIS sudah lebih jauh lagi yang meliputi peta perbankan, bidang penerapan hukum dan perundang – undangan, bahkan sampai pada pengamatan dan tindak kejahatan. Di Indonesia pemanfaatan teknologi GIS masih sebatas pada pamanfaatan land use oleh Badan dan perusahaan swasta seperti BPN, Kehutanan, Perkebunan, dan lain sebagainya.

ArcView dapat melakukan pertukaran data, operasi – operasi matematik, menampilkan informasi spasial maupun atribut secara bersamaan, membuat peta tematik, menyediakan bahasa pemograman (script) serta melakukan fungsi-fungsi khusus lainnya dengan bantuan extensions seperti spasial analyst dan image analyst (ESRI).

Sejak tahun 1996, ESRI telah merilis Arcview GIS versi 3.0 yang mulai memperkenalkan konsep extension. Dengan extension, para pengembang beserta pengguna dapat menambahkan aplikasi – aplikasi ke dalam Arcview. Selain itu dengan extension pula, para pengembang dapat memodularkan fungsionalitas perangkat lunak Arcview. Dengan demikian Arcview kemudian dikenal sebagai sebuah tool yang bersifat universal karena mampu mengakses semua tipe data geografis (baik format raster maupun vektor).

 

Extension pada Arcview secara garis besar dapat dibagi menjadi dua kelompok besar :

  • Core extension

Extension yang terikat atau hadir secara otomatis bersama dengan modul standar perangkat lunak Arcview versi yang bersangkutan. Extension ini dikembangkan oleh pihak yang sama dengan pengembang perangkat lunak Arcview (modul standar).

 

  • Optional

Extension yang hadir jika terlebih dahulu di-instal pada saat diperlukan oleh pengguna. Extension ini dikembangkan oleh pihak yang sama dengan kelompok pertama, pengguna atau pihak ketiga yang menyediakan extension-nya untuk kepentingan komersil ataupun non-profit (gratis).

 

 

 

Oleh karena itu Arcview dapat memberikan lingkungan operasi dan pengembangan yang sangat fleksibel sehingga mendorong perluasan penggunaan perangkat lunak Arcview GIS di berbagai bidang. Pustaka ESRI mencatat tidak kurang dari 57 bidang aplikasi dimana Arcview GIS berperan aktif di dalamnya, diantaranya advertising, agriculture, banking, bisnis, crime analysis, forestry, military dan sebagainya. Dengan demikian tidak heran jika kemudian banyak artikel yang menyebutkan Arcview sebagai ”GIS for Everyone”.

ArcView dalam operasinya menggunakan, membaca dan mengolah data dalam format Shapefile, selain itu ArcView jaga dapat memanggil data-data dengan format BSQ, BIL, BIP, JPEG, TIFF, BMP, GeoTIFF atau data grid yang berasal dari ARC/INFO serta banyak lagi data-data lainnya. Setiap data spasial yang dipanggil akan tampak sebagai sebuah Theme dan gabungan dari theme-theme ini akan tampil dalam sebuah view. ArcView mengorganisasikan komponen-komponen programnya (viewthemetablechartlayout dan script) dalam sebuah projectProject merupakan suatu unit organisasi tertinggi di dalam ArcView.

Salah satu kelebihan dari ArcView adalah kemampuannya berhubungan dan bekerja dengan bantuan extensionsExtensions (dalam konteks perangkat lunak SIG ArcView) merupakan suatu perangkat lunak yang bersifat “plug-in” dan dapat diaktifkan ketika penggunanya memerlukan kemampuan fungsionalitas tambahan (Prahasta). Extensions bekerja atau berperan sebagai perangkat lunak yang dapat dibuat sendiri, telah ada atau dimasukkan (di-instal) ke dalam perangkat lunak ArcView untuk memperluas kemampuan – kemampuan kerja dari ArcView itu sendiri. Contoh – contoh extensions ini seperti Spasial Analyst, Edit Tools v3.1Geoprocessing, JPGE (JFIF) Image SupportLegend ToolProjection Utility WizardRegister and Transform Tool dan XTools Extensions.

 

Feature pemetaan pada Arcview :

 

  • Template pra design pemetaan.
  • Banyaknya fasilitas simbol yang dapat dipergunakan.
  • Pewarnaan zona dan area dapat dibedakan.
  • Arah Utara, scale bars, dan beberapa elemen pemetaan tertampilkan.
  • Data – data driven classifications seperti (equal area, equal interval, natura breaks  standard deviation, data normalsasi dan banyak lagi) dapat di tampilkan.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan data yang dapat dipakai pada ArcView, diataranya :

1.    Kita dapat menggunakan data dalam bentuk Shapefile (format data ArcView) yang disertakan saat kita meng-install ArcView. Dapat juga dicari di internet atau membeli dari perusahaan yang bergerak di bidang GIS.

2.   Menggunakan data ARC/INFO. Jika mempunyai Coverage ARC/INFO dapat dibuka, diedit, dan dianalisa di ArcView.

3.   Data yang berasal dari MapInfo Professional dapat digunakan di ArcView.

4.   Gambar CAD, misalnya yang dibuat di AutoCAD dapat dibuka dan digunakan bersama-sama dengan data ArcView.

5.   Citra satelit penginderaan jauh, gambar hasil scanner, dan foto digital juga dapat digunakan pada ArcView sebagai data grid raster.

6.   Data tabular seperti data statistik, data hasil survei, penelitian, dll yang mengandung informasi geografis (X,Y) dapat digunakan sebagai sumber data ArcView.

7.   Konversi data visual ke digital melalui digitasi peta atau screen digitizing merupakan cara yang umum dilakukan untuk input data ArcView.

 

Kelebihan ArcView

Kelebihan penggunaan software Arcview GIS dalam dunia pemetaan atau kartografi adalah dengan terdapatnya fasilitas tools provide yang komplit. Sistem mampu mengkreasikan kualitas peta yang prima, dimana user dapat berkreasi dan memperkaya detail – detail yang diperlukan untuk lebih atraktif, dan mampu secara efektif menampilkan peta dan informasi lebih komunikatif yang di dapat dari hasil analisa data.

ArcView diperkaya dengan setting dan komposisi tools dan wizard, yang mempercepat mempresentasikan pekerjaan terutama bidang pemetaan. Lingkup pekerjaan pemetaan mempunyai variasi simbol dan warna juga template yang dapat di pergunakan setiap saat. Kelebihan Arc View GIS adalah komposisi dari tool nya yang mampu melakukan features dan digitasi on screen yang dapat dipergunakan untuk membedakan satu obyek dengan obyek lainnya, yakni dengan mempergunakan color ramp, shading data, graduate symbol, chart symbol, untuk kreasi dan memperindah bentuk tampilan peta lebih berkualitas.

Dalam banyak kasus adanya sistem mapping yang tidak mampu membaca data – data geografi, tetapi dalam sistem Arcview GIS, permasalahan input berbagai macam data dapat di integrasikan dengan baik, hal ini berkat adanya ekstension (optional) yang meyertakan sistem ini dalam bekerja. Dengan Arcview akan lebih mudah menampilkan berbagai macam data geografi yang akan di analisa.

Data dalam database pada Arc View GIS berbentuk tabular dan mampu dibaca pada Microsoft Access, dBASE, FoxPro, ASCII, INFO, SQL, Open Database Connectivity (ODBC), dan SAP R/3 databases. Kemampuan lain dari Arcview dalam integrasi data adalah, dengan fasilitas export/write, dimana hasil pekerjaan dan mapping dapat di transfer ke berbagai macam integrasi sistem pendukung seperti JPG Tiff, Giff dan lain sebagainya.

Data yang dapat di Integrasikan dengan sistem Arc View :

 

  • ESRI shape files
  • ArcInfo coverages
  • ArcInfo dynamic segmentation coverages
  • Route systems
  • PC ARC/INFO coverages
  • AutoCAD (DXF and DWG)
  • MicroStation (DGN and MSG)
  • TIFF 6.0 (including GeoTIFF)
  • VPF
  • ADRG
  • CADRG
  • CIB
  • NITF
  • MrSID (.sid)
  • JPEG (JFIF)
  • ERDAS IMAGINE
  • ERDAS LAN and GIS
  • BSQ
  • BIL
  • BIP
  • SunRaster i les
  • BMP
  • GRID (asimage data)
  • DIGEST (ASRP 1.1 and 1.2 and USRP 1.2 and 1.3)
  • Access spatial data in a relational database management system (DBMS) ArcSDE with Spatial Database Engine (SDE), atau Oracle Spatial Data Option (SDO) with SDE.

 

 

Kelebihan lain dari Arcview adalah kemampuannya dalam melakukan exporting data yang bisa di baca dalam berbagai macam fasilitas software lainnya antara lain Write/Export data to : ESRI shapei les, DXF, placeable WMF, Windows metai le, Windows bit map, PostScript, CGM (binary, character, clear text), and JPEG. Extended data support from optional ArcView GIS extensionsTIN, GRID (as raster data), DOQ, IRS‐1C, Landsat TM, RPF, SPOT, and GeoSPOT.

Karena di dukung oleh sistem under windows maka proses editing tidak terlalu sulit kalau kita telah terbiasa dengan windows. Proses Editing Edit geographic features dan tabular attributes mempergunakan mouse untuk digitasi on screen dan edit data. Perform stream mode digitizing. Perform complex vertex editing (add, move, delete, snap). Mempergunakan extension shape pada file operasional (split, union, combine, intersect). Automatic update attributes ketika editing. Menghitung (luas, panjang) dari database dan informasi lainnya. Proses digitasi berbasis Under windows.

Arcview sebagai sofware GIS juga mempunyai kemampuan untuk menampilkan citra tersebut ke dalam media nya, dengan menyediakan ekstension khusus untuk menampilkan seperti Imagine Image support dan image analysis, yang terlebih dahulu harus melakukan instalisasi. Pokok bahasan pada peta citra kali ini adalah citra landsat yang akan disisipkan ke dalam media lembar kerja ArcView.

Kegunaan citra pada pemetaan sangat penting, sebab sangat  membantu untuk mendukung data data muka bumi yang jauh dari jangkauan manusia seperti hutan belantara, aliran sungai yang tidak mungkin dimasuki dan dilalui manusia, tetapi dengan keberadaan citra tersebut kita dapat mengetahui keadaan sesungguhnya dan dapat dilakukan digitasi untuk melengkapi data pemetaan on screen digitation. Citra yang mampu ditampilkan dalam media lembar kerja Arcview bukan saja dalam bentuk digital sensor sensor satelit tetapi juga mampu membaca citra dari hasil scanner dan maupun foto – foto.

Sebelum membuka dan menyisipkan citra pastikan ekstension khusus untuk membaca citra sudah ter instalasi, Av_spasial analyst dan Image Analysys, selanjutnya buka arcview GIS dan buatlah view baru, kemudian klik di menu file, dan pilih ekstension, lakukan checklist pada Imagine Image support dan image analysis.

Menampilkan citra dengan mempergunakan fasilitas ekstention Imagine Image Suport lebih ringan apabila ingin dilakukan zooming area, tetapi beberapa fungsi yang ada pada Imagine image support  tidak mampu dilakukan oleh ekstension ini, seperti fungsi melihat koordinat dan pencerahan dengan interval lookup maupun linier lookup, ekstension Image Analysis adalah ekstention yang terpisah dari paket arcview dan khusus untuk spasial analysis.

Buka new theme baru dan aktifkan ekstension imagine image support :

  • Seed Tools Properties

Dengan memanfaatkan foto citra, kita bisa menganalisa dan mengidentifikasi area pada kondisi yang sama dengan melihat persamaan warna warna yang tertampil Pelaksanaan pekerjaan ini mempergunakan seed tools   dan hasil identifikasi dan analisa terhadap pengkelempokkan warna dengan karakter yang sama dapat di simpan dalam format shape file.

  • Categorize Disini Arcview

Mampu menganalisa klasifikasi lahan berdasarkan informasi yang disajikan oleh citra seperti, tubuh air, penutupan areal maupun areal terbuka, dengan membandingkan dua buah citra yang sama posisi tetapi berbeda tahun pengambilan, dengan memunculkan tool box categorize dengan measukkan pilihan desire 3 angka seperti diatas, maka akan menganalisa citra sesuai dengan data yang di masukkan.

  • Image Difference Arcview

Dengan fasilitasnya Image Analysis mampu menanalisa perubahan perubahan area lokasi dengan kurun waktu yang berbeda berdasarkan informasi yang di dapat dari citra. Besarnya perubahan tergantung kebutuhan user dalam memanfaatkan besaran perubahan baik peningkatan (increase) maupun penurunan (decrease).  Pemanfaatan fungsi analisa dalam image analysis pada image difference yang akan memunculkan dialog box  image difference.  Image Difference  sangat berguna dalam mempelajari penutupan lahan dalam kurun waktu yang berbeda, perubahan di tampilkan dengan warna merah untuk pengurangan penutupan dan hijau untuk peningkatan penutupan areal.

 

 

 

 

  • Thematic Change

Pada fasilitas Image Analisis sub Thematic Change, adalah menganalisa hasil klasifikasi dan membandingkan nya antar dua citra tematik, pemanfaatan fasilitas thematic  change adalah mempergunakan citra hasil categorize, dengan membandingkannya perubahan perubahan yang terjadi misalnya dari areal terbuka menjadi areal hutan begitu juga sebaliknya.

 

  • Mosaik

Adalah menggabungkan dua citra yang saling berhimpitan dan satu sama lain saling berpotongan, dengan menampilkan dua citra akan memperberat kerja system, maka penggabungan citra akan lebih memudahkan pekerjaan sehingga analisa terhadap citra dapat lebih cepat, persyaratan utama dalam pengabungan ini adalah dengan menggabungkan 2 citra dengan kualitas dan band yang sama.

 

  • Merubah pencerahan warna citra

Pencerahan citra dengan memanfaatkan ekstension Image analisyst. Pada umumnya pewarnaan citra yang ditampilkan adalah pada warna default, dan mungkin terlalu terang atau terlalu gelap untuk di analisa, sehingga membutuhkan perlakuan lain baik itu pencerahan atau penggelapan pewarnaan citra, fasilitas pencerahan citra dapat di lakukan dengan strech standard deviation, Hystogram Equalize, dan bahkan mampu menampilkan citra dalam ormasi gamma dan lain sebagainya.

 

  • Cropping

Fungsi croping adalah memotong atau mengiris sebuah citra menjadi beberapa bagian, karena pada dasarnya file citra dalam format IMG mempunyai bytes yang besar dan dengan kemempuan komputer yang rendah akan memerlukan waktu yang lama untuk menampilkan visual nya, sehingga fungsi crop pada bagian bagian yang akan di analisa dapat meringankan pekerjaan analysa citra.

 

Secara garis besar ARCVIEW terdiri atas piranti – piranti dengan berbagai karakteristik sebagai berikut :

 

 

1. Graphical User Interface yang Bersifat Umum

2. User Interface dari “GUI” versi ArcView adalah identik dan dapat ‘terbaca’ pada semua

3. Plafform yang di support oleh ArcView. Sehingga user dapat dengan leluasa membuka

4. Data pada system (platform) yang berlainan.

5. Table Structure (Struktur Tabel)

6. Struktur data ArcView adalah identik dengan semua platform yang di support oleh

7. ArcView. Data dapat dibuka dan dibaca oleh platform yang berbeda, dan dapat

8. Didistribusikan melalui network ke user lain tanpa diterjemahkan terlebih dahulu.

9. Grafik yang Diintegrasikan dengan DataBase (Basis Data)

10. Istilah yang paling tepat untuk menggambarkan ArcView adalah “geographic atau graphic

11. Database”.

12. DataBase atau Map Selection

13. Dengan adanya integrasi grafik dengan basis datanya di ArcView, maka informasi dapat

14. Diketahui melalui seleksi basis data atau seleksi grafiknya.

15. Menampilkan Raster sebagai Background bagi Vektor

16. Image Raster, seperti Foto Udara, Peta hasil Scan atau Citra satelit dapat digunakan

17. Sebagai background peta (vektor). Sehingga penyajian peta akan tampak lebih bagus dan

18. Dengan presisi detail yang match dengan Raster sebagai background. Image raster dari

19. Aplikasi bitmap atau aplikasi lainnya juga dapat digunakan untuk menampilkan logo

20. Perusahaan di ArcView. Beberapa format raster yang dapat dibaca oleh ArcView dapat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

I. Penutup

Kesimpulan

 

o   Arc View GIS  menyediakan sekumpulan  rupa – rupa perangkat (tools) dan button untuk memudahkan pekerjaan dalam membuat  komposisi peta  yang  intuitif.

o   Dalam Arc View kita memungkinkan  dengan cepat menciptakan peta berkualitas.

o   Beraneka ragamnya  kemampuan presentasi peta mulai dari warna dan palet pola ekstensif, simbol, dan cetakan (template) yang  anda bisa gunakan berulang – ulang.

o   ArcView GIS mampu memetakan  dan mendigitasikan data  yang telah diambil dari ground check  way point (GPS) dengan proses digitasi on screen, dengan fitur komposisi seperti on screen, juga  mampu meningkatkan komunikasi dengan peta ‘built-in‘

Tektonik dan geomorfologi

Leave a comment

Bentukan asal struktur/structure (S) adalah bentangalam yang dibentuk oleh kegiatan tektonik, dalam skala yang lebih rinci akan memberikan kenampakan morfologi struktur, antara lain: pematang pebukitan sesar (horst) , lembah sesar (graben), telaga sesar (sagpond), gawir sesar (fault scarp), plateau , pebukitan siklin/antiklin, lembah siklin/antiklin , pebukitan homoklin, dsb.

STRUKTUR GEOLOGI / BATUAN

  1. Struktur perlapisan
  2. Struktur perlipatan
  3. Struktur kekar
  4. Struktur sesar
  5. Struktur ketidakselarasan

Struktur perlapisan

1.       Antiklin

Adanya perulangan perbedaan kekerasan batuan (lapisan batuan), rona, tekstur, pola pengaliran radial, annular & mungkin sentripetal, umumnya memperlihatkan perbeda-an jurus & kemiringan lapisan.

2.       Sinklin

Adanya perulangan perbedaan kekerasan batuan (lapisan batuan), rona, tekstur, pola pengaliran sentripetal maupun trelis, umumnya memperlihat-kan adanya perbedaan jurus dan kemiringan yang berlawanan.

 

 

Bentangalam Daerah Terlipat

Pada waktu pembentukannya batuan endapan berada dalam keadaan mendatar / horisontal.

Keanekaragaman bahan mempengaruhi proses pengendapan sehingga akan terbentuk berlapis-lapis & perlapisannya terletak secara horisontal.

Dalam posisi normal makin ke arah atas letaknya maka dengan sendirinya makin muda (hukum superposisi)

Bila tenaga asal dalam (endogen) bekerja maka batuan endapan akan mengalami gangguan.

Mungkin letaknya tidak horisontal lagi atau justru terlipat membentuk lipatan (fold) baik antiklin maupun sinklin, bahkan tersesarkan (fault).

Akibat kekerasan batuan endapan yang berlain-an antara satu lapisan dengan lapisan lainnya, maka akan membentuk bentangalam yang khas

Erosi berperan pada bagian yang lemah yaitu pada batuan lunak dan bagian yang keras akan menonjol membentuk bukit-bukit.

Biasanya bukit ini memanjang sejajar dengan arah pelapisan.

Daerah-daerah terlipat di Indonesia pada umumnya merupakan tempat terkumpulnya (perangkap) minyak bumi. Contoh:

Sepanjang Sumatera sebelah Timurlaut,

Rembang,

Madura-Kangean, dan

Kalimantan Timur.

Daerah yang membentuk dome (kubah garam) di Pantai Teluk Meksiko (Amerika) dan Iran sangat terkenal sebagai tempat terkumpulnya minyak bumi.

 

 

Struktur kekar

Biasanya dicirikan oleh adanya pola pengaliran rektangular, annular mau-pun angulate. Struktur kekar dapat ter-jadi pada batuan sedimen, batuan beku dan batuan metamorf

Struktur sesar

Struktur sesar pada umumnya ditunjukkan oleh:

•          True fault scrap (tebing-tebing yang terbentuk oleh sesar)

•          Fault line scrap (bekas erosi true fault scrap)

•          Obsequent fault line scrap (erosi lanjut mem-bentuk tebing curam dengan kemiringan berla-wanan bidang patahan)

•          Danau-danau pada suatu garis lurus

•          Jeram-jeram

•          Pola pengaliran trellis

•          Pola pengaliran paralel

•          Adanya “off-set” dari aliran sungai

•          Struktur ketidakselarasan

 

•          Ketidakselarasan dapat terlihat pada foto udara, apabila berdimensi cukup besar.

•          Ketidakselarasan yang terlihat pada foto udara adalah ketidakselarasan bersudut (angular un-corformity).

•          Bidang ketidakselarasan biasanya ditunjukkan oleh perbedaan menyolok jurus dan kemiringan batuan, perbedaan rona dan tekstur jenis batuan yang berbeda.

 

By IMMANUEL VARIANT RUMENDE

270110090062

 

Proses Proses Geomorfologi

Leave a comment

1. Pelapukan

 

Pelapukan adalah proses disintegrasi secara berangsur dari material penyusun kulit bumi yang berupa batuan. Pelapukan sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim , temperatur serta komposisi mineral-mineral batuan.

Dalam Geomorfologi, denudasi adalah istilah yang dipakai untuk mengindikasikan lepasnya material – material melalui proses erosi dan pelapukan yang berakibat pada berkurangnya ketinggian (elevasi) dan relief dari bentuk lahan serta bentang alam. Proses eksogenik (kerja air, es, dan angin) adalah faktor yang mendominasi proses denudasi. Denudasi dapat mengakibatkan lepasnya partikel- partikel yang berbentuk padat maupun material yang berupa larutan. Secara geomorfologi , pelapukan mekanis dan pelapukan kimiawi mempunyai hubungan dengan pembentukkan bentang alam.

Pelapukan mekanis adalah semua mekanisme yang dapat mengakibatkan terjadinya proses pelapukan sehingga suatu batuan dapat hancur menjadi beberapa bagian yang lebih kecil partikel-partikel yang lebih halus. Mekanisme dari proses pelapukan mekanis antara lain adalah abrasi, kristalisasi es (pembekuan air) dalam batuan, perubahan panas secara cepat (thermal fracture) , proses hidrasi, dan eksfoliasi/pengelupasan yang disebabkan pelepasan tekanan pada batuan karena perubahan tekanan.

 

Pelapukan kimiawi (dikenal juga sebagai proses dekomposisi atau proses peluruhan) adalah terurai/pecahnya batuan melalui mekanisme kimiawi, seperti karbonisasi, hidrasi, hidrolisis, oksidasi dan pertukaran ion-ion dalam larutan.  Pelapukan kimiawi merubah komposisi mineral mineral dalam batuan menjadi mineral permukaan seperti mineral lempung. Mineral-mineral yang tidak stabil yang terdapat dalam batuan akan dengan mudah mengalami pelapukan apabila berada dipermukaan bumi, seperti basalt dan peridotit. Air merupakan agen yang sangat penting dalam terhadinya proses pelapukan kimia, seperti pengelupasan cangkang (speriodal weathering) pada batuan.

 

Pelapukan organis dikenal juga sebagai pelapukan biologis dan merupakan istilah yang umum dipakai untuk menjelaskan proses pelapukan biologis yang terjadi pada penghancuran batuan, termasuk proses penetrasi akar tumbuhan kedalam batuan dan aktivitas organisme dalam membuat lubang-lubang pada batuan (bioturbation), termasuk didalamnya aksi dari berbagai jenis asam yang ada dalam mineral melalui proses leaching. Pada hakekatnya pelapukan organis merupakan perpaduan antara proses pelapukan mekanis dan pelapukan kimiawi.

 

Hasil akhir dari ketiga jenis pelapukan batuan tersebut diatas dikenal sebagai soil (tanah). Karena tanah merupakan hasil dari pelapukan batuan maka berbagai jenis tanah, seperti Andosol, Latosol atau Laterit tergantung pada jenis batuan asalnya.

Proses pelapukan, baik secara mekanis yang disebabkan antara lain oleh perubahan temperatur panas , dingin, angin, hujan, es, pembekuan pada batuan menyebabkan batuan induk mengalami disintegrasi (perombakan) menjadi bagian yang lebih kecil, sedangkan proses kimiawi yang disebabkan oleh larutan asam, kelembaban merubah mineral-mineral menjadi ion-ion, oksidasi besi dan alumina, mineral silika akan menghasilkan lapisan lapisan lempung.

 

 

 

 

Tabel 2.1  Produk Pelapukan Mineral Pembentuk Batuan

 

Mineral Asal Dalam Pengaruh CO2 dan  H2O Hasil Utama

( Padat )

Hasil Lainnya   (Larutan)
Feldspar Mineral lempung  (Na) Na+, Ca2+, K+, SO2
Mineral Fero-magnesium (termasuk biotit dan mika) Mineral lempung  (Na) Na+, Ca2+, K+, SO2, Mg2+, Fe2+
Muscovit Mineral lempung  (K) K+, SO2
Kuarsa Butiran pasir -
Kalsit Ca Ca2+, HCO3

 

 

 

2. Erosi

Erosi adalah istilah umum yang dipakai untuk proses penghancuran batuan (pelapukan) dan proses pengangkutan hasil penghancuran batuan. Proses erosi fisika disebut sebagai proses corration (erosi mekanis) sedangkan proses erosi kimia disebut dengan corrosion. Agen dari proses erosi adalah gaya gravitasi, air, es, dan angin. Berdasarkan bentuk dan ukurannya, erosi dapat dibagi menjadi 5 (lima) yaitu:

 

 

  • Erosi alur (Riil erosion)

Erosi alur adalah proses pengikisan yang terjadi pada permukaan tanah (terain) yang disebabkan oleh hasil kerja air berbentuk alur-alur dengan ukuran berkisar antara beberapa milimeter hingga beberapa centimeter. Pada dasarnya erosi alur merupakan tahap awal dari hasil erosi air yang mengikis permukaan tanah (terrain) membentuk alur-alur sebagai tempat mengalirnya air. Pada perkembangannya erosi alur akan berkembang menjadi erosi ravine.

Erosi alur berupa alur-alur kecil dengan lebar alur berkisar beberapa centimeter dan terbentuk akibat erosi air.

  • Erosi Berlembar (Sheet Erosion)

Erosi berlembar adalah proses pengikisan air yang terjadi pada permukaan tanah yang searah dengan bidang permukaan tanah, biasanya terjadi pada lereng-lereng bukit yang vegetasinya jarang atau gundul.

  • Erosi drainase (ravine Erosion)

Erosi drainase  adalah proses pengikisan yang disebabkan oleh kerja air pada permukaan tanah (terrain) yang membentuk saluran-saluran dengan lembah-lembah salurannya berukuran antara beberapa centimeter hinggga satu meter.

  • Erosi saluran (gully erosion)

Erosi saluran adalah erosi yang disebabkan oleh hasil kerja air pada permukaan tanah membentuk saluran-saluran dengan ukuran lebar lembahnya lebih besar 1 (satu) meter hingga beberapa meter.

  • Erosi lembah (valley erosion)

Erosi lembah adalah proses dari kerja air pada permukaan tanah (terrain) yang berbentuk saluran-saluran dengan ukuran lebarnya diatas sepuluh meter.

3. Mass Wasting

Mass Wasting adalah semua pengangkutan massa puing batuan     menuruni lereng akibat pengaruh langsung tenaga gravitasi melalui proses rayapan (creep), luncuran (slides), aliran (flows), rebah (topples), dan jatuhan (falls). Mass wasting umumnya terjadi di daratan maupun di lautan terutama di lereng benua.

4. Sedimentasi

Sedimentasi adalah suatu proses pengendapan material yang ditranport oleh media air, angin, es/gletser di suatu cekungan. Delta yang terdapat di mulut-mulut sungai adalah hasil dari proses pengendapan material-material yang diangkut oleh air sungai, sedangkan Sand Dunes yang terdapat di gurun-gurun dan di tepi pantai adalah hasil dari pengendapan material – material yang diangkut oleh angin.

Bentangalam yang ada saat ini adalah hasil dari proses proses geologi yang terjadi di masa lampau. Pada saat ini proses proses geologi (endogenik dan eksogenik) tetap berlangsung dan secara berlahan dan pasti akan merubah bentuk bentang alam yang ada saat ini. Proses proses eksogen yang terjadi di permukaan bumi dapat dikelompokkan berdasarkan agen/media yang mempengaruhinya, yaitu air, angin, gletser dan iklim

Agen Geomorfologi

Proses proses utama yang bertanggungjawab yang terjadi di permukaan bumi untuk kebanyakan bentuk-bentuk permukaan bumi adalah angin, gelombang, pelapukan, mass wasting, air bawah tanah, air permukaan, gletser, tektonik dan volkanisme. Apabila air jatuh keatas permukaan bumi, maka beberapa kemungkinan dapat terjadi. Air akan terkumpul sebagai tumpukan salju didaerah-daerah  puncak pegunungan yang tinggi atau sebagai gletser. Ada pula yang terkumpul didanau-danau. Yang jatuh menimpa tumbuh- tumbuhan dan tanah, akan menguap kembali kedalam atmosfir atau diserap oleh tanah melalui

akar-akar tanaman, atau mengalir melalui sistim sungai atau aliran bawah tanah.

 

 

1. Proses Sungai (Fluvial Process)

Sungai dan cabang-cabang sungai tidak saja hanya mengangkut air, tetapi juga sedimen. Air yang mengalir di saluran disepanjang saluran sungai, mampu memobilisasi sedimen dan mengangkutnya kebagian hilir, baik yang berbentuk bed load (partikel berukura kasar), suspended load (partikel berukuran halus) atau dissolved load (partikel yang larut dalam air). Kecepatan pengangkutan sedimen sangat tergantung ketersediaan sedimen itu sendiri serta material sedimen yang masuk kedalam sungai. Sebagaimana aliran sungai yang mengalir pada berbagai tipe bentangalam, dan umumnya meningkat dalam ukurannya sebagai akibat dari bersatunya anak-anak sungai ke sungai induknya. Jaringan sungai ini kemudian membentuk suatu sistem aliran  yang sering disebut dengan dendritik, atau mengadopsi dengan pola lainnya tergantung pada topografi regional dan kondisi geologi yang mendasarinya. Diatas permukaan Bumi, air akan mengalir melalui jaringan pola aliran sungai menuju bagian- bagian yang rendah. Setiap pola aliran mempunyai daerah pengumpulan air yang dikenal

Sebagai daerah aliran sungai  atau disingkat sebagai DAS atau  drainage basin . Setiap DAS dibatasi dari DAS disebelahnya oleh suatu tinggian topografi yang dinamakan pemisah aliran (drainage divide). Dengan digerakkan oleh gayaberat, air hujan yang jatuh dimulai dari daerah pemisah aliran akan mengalir melalui lereng sebagai lapisan lebar berupa air-bebas dengan ketebalan hanya beberapa Cm saja yang membentuk alur-alur kecil. Dari sini air akan bergabung dengan sungai baik melalui permukaan atau sistim air bawah permukaan. Dalam perjalanannya melalui cabang-cabangnya menuju ke sungai utama dan kemudian

bermuara di laut, air yang mengalir dipermukaan melakukan kegiatan-kegiatan mengikis, mengangkut dan mengendapkan bahan-bahan yang dibawanya. Meskipun sungai-sungai yang ada dimuka bumi ini hanya mengangkut kira-kira 1/1000.000 dari jumlah air yang ada di Bumi, namun ia merupakan gaya geologi yang sangat ampuh yang menyebabkan perubahan pada permukaan bumi. Hasil utama yang sangat menonjol yang dapat diamati adalah terbentuknya lembah-lembah yang dalam yang sangat menakjubkan diatas muka bumi ini.

a.   Pengikisan sungai

Cara sungai mengikis dan menoreh lembahnya adalah dengan cara (1) abrasi,  (2)merenggut dan mengangkat bahan-bahan yang lepas, (3) dengan pelarutan. Cara yang pertama atau abrasi merupakan kerja pengikisan oleh air yang paling menonjol yang dilakukannya dengan menggunakan bahan-bahan yang diangkutnya, seperti pasir, kerikil.

Cara lain yang dapat dilakukan  adalah dengan hydrolic lifting, yang terjadi sebagai akibat tekanan oleh air, khususnya pada arus turbelensi. Batuan yang sudah retak-retak atau menjadi lunak karena proses pelapukan, akan direnggut oleh air. Dalam keadaan tertentu air dapat ditekan dan masuk kedalam rekahan-rekahan batuan dengan kekuatan yang dahsyat yang mempunyai kemampuan yang dahsyat untuk menghancurkan batuan yang membentuk saluran atau lembah. Air juga dapat menoreh lembahnya melalui proses pelarutan, terutama apabila sungai itu mengalir melalui batuan yang mudah larut seperti batukapur.

 

 

b.   Pengangkutan oleh sungai

Sungai juga ternyata merupakan media yang mampu mengangkut sejumlah besar bahan yang terbentuk sebagai akibat proses pelapukan batuan. Banyaknya bahan yang diangkut ditentukan oleh faktor iklim dan tatanan geologi dari suatu wilayah. Meskipun bahan-bahan yang diangkut oleh sungai berasal antara lain dari hasil penorehan yang dilakukan sungai itu sendiri, tetapi ternyata yang jumlahnya paling besar adalah yang berasal dari hasil proses pelapukan batuan. Proses pelapukan ternyata menghasilkan sejumlah besar bahan yang siap untuk diangkut baik oleh sungai maupun oleh cara lain seperti gerak tanah, dan air tanah. Bagaimana cara air mengalir mengangkut bahan-bahannya akan diuraikan sebagai berikut: Dengan cara melarutkan. Jadi dalam hal ini air pengangkut berfungsi sebagai media larutan. Dengan suspensi, atau dalam keadaan bahan-bahan itu terapung  didalam air. Kebanyakan sungai-sungai (meskipun tidak semuanya) mengangkut sebahagian besar bebannya melalui cara ini, terutama sekali bahan-bahan berukuran pasir dan lempung. Tetapi pada saat banjir, bahan-bahan berukuran yang lebih besar dari itu juga dapat diangkut dengan cara demikian. Dengan cara didorong melalui dasar sungai (bed load). Agak berbeda dengan cara sebelumnya, cara ini berlangsung kadang-kadang saja, yaitu pada saat kekuatan airnya cukup besar untuk menggerakkan bahan-bahan yang terdapat di dasar sungai.

 

 

 

2. Proses Angin (Aeolian Process)

Proses Aeolian adalah proses yang disebakan oleh aktivitas angin khususnya kemampuan angin dalam merubah bentuk permukaan bumi. Angin dapat mengikis/mengerosi, mentranport, dan mengendapkan material-material, terutama sangat efektif di daerah yang vegetasinya jarang dan sebagai pemasok material sedimen yang tak terkonsolidasi. Walaupun air lebih dominan dibandingkan angin, namun proses aeolian sangat penting terutama pada lingkungan arid seperti diwilayah gurun.

 

3. Mass Wasting Process (Hillslope)

Tanah, regolith dan batuan dapat berpindah ke kaki lereng oleh gaya gravitasi dengan cara rayapan, aliran, rebahan, atau jatuhan. Mass wasting terjadi terutama di daratan maupun di lereng lereng yang berada pada bawah laut.

 

4. Proses Glasial (Glacial Process)

Secara geografis, penyebaran proses glasial terjadi di tempat tempat tertentu dan sebarannya terbatas. Proses glasial diketahui sebagai agen yang sangat efekti dalam perubahan bentangalam. Pergerakan es yang bersifat berlahan ke arah lsuatu lembah dapat menyebabkan abrasi dan gerusan pada batuan yang dilewatinya.

 

Sumber-sumber:

Bloom, Arthur., Geomorphology A systematic Analysis of late Cenozoic

Landforms, Prentice-Hall, 1978.

Noor, Djauhari., bab 2 proses proses geomorfologi, docs.docstoc.com

 

 

 

By : Andy Arifianto Saleh

270110090063

Vulkanologi merupakan studi tentang gunung berapi

Leave a comment

Vulkanologi merupakan studi tentang gunung berapi, lava, magma, dan fenomena geologi yang berhubungan. Seorang ahli vulkanologi adalah orang yang melakukan studi pada bidang ini. Istilah vulkanologi berasal dari Bahasa Latin Vulcan, dewa api Romawi.

Para ahli vulkanologi sering mengunjungi gunung berapi, terutama yang masih aktif, untuk mengamati letusan gunung berapi, mengumpulkan produk letusan termasuk contoh tephra (seperti abu, ash atau batu apung, pumice), batuan, dan lava. Tujuan utama dari penyelidikan adalah perkiraan letusan; pada saat ini belum ada cara yang akurat untuk melakukan hal ini, tetapi memperkirakan letusan, seperti halnya memperkirakan gempa bumi, dapat menyelamatkan banyak jiwa. Seorang ahli vulkanologi mempelajari pembentukan gunung berapi dan letusannya saat ini serta sejarah letusannya.

Gunung berapi

Gunung berapi Mahameru atau Semeru di belakang. Latar depan adalah kaldera Bromo, Jawa Timur, Indonesia.

Letusan gunung berapi dapat berakibat buruk terhadap margasatwa lokal, dan juga manusia.

Gunung berapi atau gunung api secara umum adalah istilah yang dapat didefinisikan sebagai suatu sistem saluran fluida panas (batuan dalam wujud cair atau lava) yang memanjang dari kedalaman sekitar 10 km di bawah permukaan bumi sampai ke permukaan bumi, termasuk endapan hasil akumulasi material yang dikeluarkan pada saat meletus.

Lebih lanjut, istilah gunung api ini juga dipakai untuk menamai fenomena pembentukan ice volcanoes atau gunung api es dan mud volcanoes atau gunung api lumpur. Gunung api es biasa terjadi di daerah yang mempunyai musim dingin bersalju, sedangkan gunung api lumpur dapat kita lihat di daerah Kuwu, Purwodadi, Jawa Tengah. Masyarakat sekitar menyebut fenomena di Kuwu tersebut dengan istilah Bledug Kuwu

Gunung berapi terdapat di seluruh dunia, tetapi lokasi gunung berapi yang paling dikenali adalah gunung berapi yang berada di sepanjang busur Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire). Busur Cincin Api Pasifik merupakan garis bergeseknya antara dua lempengan tektonik.

Gunung berapi terdapat dalam beberapa bentuk sepanjang masa hidupnya. Gunung berapi yang aktif mungkin bertukar menjadi separuh aktif, menjadi padam, sebelum akhirnya menjadi tidak aktif atau mati. Bagaimanapun gunung berapi mampu menjadi padam dalam waktu 610 tahun sebelum bertukar menjadi aktif semula. Oleh itu, sukar untuk menentukan keadaan sebenarnya sesuatu gunung berapi itu, apakah sesebuah gunung berapi itu berada dalam keadaan padam atau telah mati.

Apabila gunung berapi meletus, magma yang terkandung di dalam kamar magmar di bawah gunung berapi meletus keluar sebagai lahar atau lava. Selain daripada aliran lava, kemusnahan oleh gunung berapi disebabkan melalui berbagai cara seperti berikut:

  • Aliran lava.
  • Letusan gunung berapi.
  • Aliran lumpur.
  • Abu.
  • Kebakaran hutan.
  • Gas beracun.
  • Gelombang tsunami.
  • Gempa bumi.
Tingkat isyarat gunung berapi di Indonesia
Status Makna Tindakan
AWAS
  • Menandakan gunung berapi yang segera atau sedang meletus atau ada keadaan kritis yang menimbulkan bencana
  • Letusan pembukaan dimulai dengan abu dan asap
  • Letusan berpeluang terjadi dalam waktu 24 jam
  • Wilayah yang terancam bahaya direkomendasikan untuk dikosongkan
  • Koordinasi dilakukan secara harian
  • Piket penuh
SIAGA
  • Menandakan gunung berapi yang sedang bergerak ke arah letusan atau menimbulkan bencana
  • Peningkatan intensif kegiatan seismik
  • Semua data menunjukkan bahwa aktivitas dapat segera berlanjut ke letusan atau menuju pada keadaan yang dapat menimbulkan bencana
  • Jika tren peningkatan berlanjut, letusan dapat terjadi dalam waktu 2 minggu
  • Sosialisasi di wilayah terancam
  • Penyiapan sarana darurat
  • Koordinasi harian
  • Piket penuh
WASPADA
  • Ada aktivitas apa pun bentuknya
  • Terdapat kenaikan aktivitas di atas level normal
  • Peningkatan aktivitas seismik dan kejadian vulkanis lainnya
  • Sedikit perubahan aktivitas yang diakibatkan oleh aktivitas magma, tektonik dan hidrotermal
  • Penyuluhan/sosialisasi
  • Penilaian bahaya
  • Pengecekan sarana
  • Pelaksanaan piket terbatas
NORMAL
  • Tidak ada gejala aktivitas tekanan magma
  • Level aktivitas dasar
  • Pengamatan rutin
  • Survei dan penyelidikan

Daftar isi 

[sembunyikan]

Jenis gunung berapi berdasarkan bentuknya

Stratovolcano

Tersusun dari batuan hasil letusan dengan tipe letusan berubah-ubah sehingga dapat menghasilkan susunan yang berlapis-lapis dari beberapa jenis batuan, sehingga membentuk suatu kerucut besar (raksasa), terkadang bentuknya tidak beraturan, karena letusan terjadi sudah beberapa ratus kali. Gunung Merapi merupakan jenis ini.

Perisai

Tersusun dari batuan aliran lava yang pada saat diendapkan masih cair, sehingga tidak sempat membentuk suatu kerucut yang tinggi (curam), bentuknya akan berlereng landai, dan susunannya terdiri dari batuan yang bersifat basaltik. Contoh bentuk gunung berapi ini terdapat di kepulauan Hawai.

Cinder Cone

Merupakan gunung berapi yang abu dan pecahan kecil batuan vulkanik menyebar di sekeliling gunung. Sebagian besar gunung jenis ini membentuk mangkuk di puncaknya. Jarang yang tingginya di atas 500 meter dari tanah di sekitarnya.

Kaldera

Gunung berapi jenis ini terbentuk dari ledakan yang sangat kuat yang melempar ujung atas gunung sehingga membentuk cekungan. Gunung Bromo merupakan jenis ini.

Klasifikasi gunung berapi di Indonesia

Tipe A

Gunung berapi yang pernah mengalami erupsi magmatik sekurang-kurangnya satu kali sesudah tahun 1600.

Tipe B

Gunung berapi yang sesudah tahun 1600 belum lagi mengadakan erupsi magmatik, namun masih memperlihatkan gejala kegiatan seperti kegiatan solfatara.

Tipe C

Gunung berapi yang erupsinya tidak diketahui dalam sejarah manusia, namun masih terdapat tanda-tanda kegiatan masa lampau berupa lapangan solfatara/fumarola pada tingkah lemah.

Lava

Lava adalah cairan larutan magma pijar yang mengalir keluar dari dalam bumi melalui kawah gunung berapi atau melalui celah (patahan) yang kemudian membeku menjadi batuan yang bentuknya bermacam-macam. Bila cairan tersebut encer akan meleleh jauh dari sumbernya membentuk aliran seperti sungai melalui lembah dan membeku menjadi batuan seperti lava ropi atau lava blok (umumnya di Indonesia membentuk lava blok). Bila agak kental, akan mengalir tidak jauh dari sumbernya membentuk kubah lava dan pada bagian pinggirnya membeku membentuk blok-blok lava tetapi suhunya masih tinggi, bila posisinya tidak stabil akan mengalir membentuk awan panas guguran dari lava.

Magma

Lava Hawaii yang mengalir (lava adalah magma yang mengalir keluar)

Magma merupakan batu-batuan cair yang terletak di dalam kamar magma di bawah permukaan bumi. Magma di bumi merupakan larutan silika bersuhu tinggi yang kompleks dan merupakan asal semua batuan beku. Magma berada dalam tekanan tinggi dan kadang kala memancut keluar melalui pembukaan gunung berapi dalam bentuk aliran lava atau letusan gunung berapi.

Hasil letupan gunung berapi ini mengandung larutan gas yang tidak pernah sampai ke permukaan bumi. Magma terkumpul dalam kamar magma yang terasing di bawah kerak bumi dan mengandung komposisi yang berlainan menurut tempat magma itu didapati.

Presented by SITI MULIA NURUL ASWAD

270110090058

Karst

Leave a comment

Geomorfologi berupa karst

Karst

Karst

Karst

Karst adalah bentukan di permukaan bumi yang pada umumnya dicirikan dengan adanya depresi tertutup (closed depression), drainase permukaan, dan gua. Daerah ini dibentuk terutama oleh pelarutan batuan, kebanyakan batu gamping.

Proses pembentukan karst

Daerah karst terbentuk oleh pelarutan batuan terjadi di litologi lain, terutama batuan karbonat lain misalnya dolomit, dalam evaporit seperti halnya gips dan halite, dalam silika seperti halnya batupasir dan kuarsa, dan di basalt dan granit dimana ada bagian yang kondisinya cenderung terbentuk gua (favourable). Daerah ini disebut karst asli.

Daerah karst dapat juga terbentuk oleh proses cuaca, kegiatan hidrolik, pergerakan tektonik, air dari pencairan salju dan pengosongan batu cair (lava). Karena proses dominan dari kasus tersebut adalah bukan pelarutan, kita dapat memilih untuk penyebutan bentuk lahan yang cocok adalah pseudokarst (karst palsu).

Ekosistem karst

Ekosistem karst memiliki keunikan, baik secara fisik, maupun dalam aspek keanekaragaman hayati.

Biota gua

Belum banyak jenis biota gua Indonesia yang diungkapkan. Baru beberapa jenis udang gua (Macrobrachium poeti), kalajengking gua dari Maros (Chaerilus sabinae), kepiting gua buta (Cancrocaeca xenomorpha), kepiting mata kecil (Sesarmoides emdi), isopoda gua (Cirolana marosina), Anthura munae, kumbang gua (Eustra saripaensis), Mateullius troglobiticus, Speonoterus bedosae, ekorpegas gua (Pseudosinella maros), Stenasellus covillae, S. stocki, S. monodi, dan S. javanicus dari karst Cibinong.

Penyedia air

Di kawasan kars banyak dijumpai gua dan sungai bawah tanah yang juga menjadi pemasok ketersediaan air tanah yang sangat dibutuhkan oleh kawasan yang berada di bawahnya. Termasuk di dalamnya ketersediaan air tawar (dan bersih) bagi kehidupan manusia, baik untuk keperluan harian maupun untuk pertanian dan perkebunan.

Daerah karst di Indonesia

Kawasan karst di Indonesia mencakup luas sekitar 15,4 juta hektare dan tersebar hampir di seluruh Indonesia. Perkiraan umur dimulai sejak 470 juta tahun lalu sampai yang terbaru sekitar 700.000 tahun. Keberadaan kawasan ini menunjukkan bahwa pulau-pulau Indonesia banyak yang pernah menjadi dasar laut, namun kemudian terangkat dan mengalami pengerasan. Wilayah karst biasanya berbukit-bukit dengan banyak gua.

Berikut adalah wilayah karst di Indonesia

Kawasan Pegunungan Sewu, Pegunungan Maros, dan Pegunungan Lorentz telah diusulkan ke UNESCO untuk menjadi Kawasan Warisan Dunia.

Sisa-sisa permukiman manusia purba ditemukan di Leang Cadang, Leang Lea, dan goa-goa lainnya di Maros, Goa Sampung dan Goa Lawa di Ponorogo, Goa Marjan dan Goa Song di Jember, Song Gentong (Tulungagung), Song Brubuh, Song Terus, dan Goa Tabuhan di Pacitan. Lukisan atau cap dinding ditemukan di kawasan Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan dan Tenggara, Kepulauan Kai, Seram, Timor, serta Papua. Ini menunjukkan indikasi migrasi manusia ke arah timur. Selain itu ditemukan pula berbagai sisa berbagai jenis vertebrata berusia 1,7 juta tahun hingga 700.000 tahun.

Kerusakan kawasan karst

  • Aktivitas penggalian batu kapur
  • Penambangan oleh industri semen
  • Karst: Kawasan Terakhir Untuk Berkehidupan

 

 

Istilah karst yang dikenal di Indonesia sebenarnya diadopsi dari bahasa Yugoslavia/Slovenia. Istilah aslinya adalah ‘krst / krast’ yang merupakan nama suatu kawasan di perbatasan antara Yugoslavia dengan Italia Utara, dekat kota Trieste. kosistem Karst adalah areal-areal yang mempunyai lithologi dari bahan induk kapur.

Di Kalimantan Timur, lahan ini sebagian besar terdapat di semenanjung Sangkulirang, memanjang sampai ke Tanjung Mangkaliat dengan luas 293.747,84 hektar. Kawasan ini merupakan kawasan yang terancam, karena kepentingan industri dan langkanya semen, menjadikan kawasan pegunungan kapur yang menjadi salah satu bahan baku industri akan segera ditambang.

Ekosistem karst memiliki sebuah keunikan sendiri, baik secara fisik, maupun dalam aspek keanekaragaman hayati. Sifat yang rentan dari biota gua, merupakan sebuah indikator penting terhadap perubahan lingkungan. Belum banyak jenis biota gua Indonesia yang diungkapkan. Baru beberapa jenis udang gua (Macrobrachium poeti), kalanjengking gua dari Maros (Chaerilus sabinae), kepiting gua buta (Cancrocaeca xenomorpha), kepiting mata kecil (Sesarmoides emdi), isopoda gua (Cirolana marosina), Anthura munae, kumbang gua (Eustra saripaensis), Mateullius troglobiticus, Speonoterus bedosae, ekorpegas gua (Pseudosinella maros), Stenasellus covillae, S. stocki, S., dan S. Monodi dan S. javanicus dari Karst Cibinong.

Yang juga menjadi arti penting kawasan karst adalah ketersediaan air tanah yang sangat dibutuhkan oleh kawasan yang berada di bawahnya. Termasuk di dalamnya ketersediaan air tawar (dan bersih) bagi kehidupan manusia, baik untuk keperluan harian maupun untuk pertanian dan perkebunan.

Komunitas lokal pun telah memiliki sebuah sistem untuk melakukan pelestarian terhadap kawasan karst dan hidupan yang ada di dalamnya. Namun kemudian, telah banyak peneliti yang melakukan pengambilan spesimen dengan dalih untuk kepentingan pengetahuan. Selain juga, kelompok petualang yang melakukan “pengrusakan” terhadap kawasan karst demi kesenangan pribadi.

Proses pengrusakan yang lebih besar dilakukan oleh kepentingan industri. Langkanya semen kemudian dijadikan dallih untuk melegalkan upaya penambangan di kawasan ekosistem karst. Padahal, di Indonesia kawasan ini tak lebih dari 15,4 juta hektar dan 192 juta hektar lahan daratan negeri. Penggunaan bahan peledak untuk menghancurkan batuan pun, menambah proses kehancuran sistem yang ada di kawasan karst.

Masih begitu banyak keunikan yang dimiliki oleh ekosistem karst, yang menjadikan kawasan ini bernilai penting bagi kehidupan. Termasuk, di saat terjadi kekeringan, maka kawasan ini merupakan tempat diperolehnya tetesan air. Sungai-sungai bawah tanah masih akan terus mengaliri sungai permukaan, selama kawasan ini terjaga.

Karst, merupakan kawasan terakhir untuk berkehidupan. Kemampuan kawasan ini menyediakan kebutuhan udara, air dan sumber pakan, menjadi kelebihan kawasan ini. Pada fase awal peradaban pun, lebih banyak makhluk hidup yang menggantungkan hidupnya di kawasan karst. Karenanya, banyak ditemui lukisan di dinding gua, yang kemudian juga menjadi catatan atas sejarah kehidupan.

Perlindungan kawasan karst menjadi penting dan mendesak. Saat ini baru sebagian kecil kawasan karst di negeri ini yang memperoleh kehidupan. Sama halnya dengan kawasan ekosistem kerangas yang masih sangat terancam keberadaannya. Semakin banyak ekosistem unik dan langka di negeri ini yang tak mampu bertahan diantara relung keserakahan segelintir kelompok manusia.

Bukan lagi saatnya untuk memacu diri mengejar keping emas. Kehidupan tak akan pernah dapat berlanjut hanya dengan menggigit batubara, meminum minyak bumi dan menghirup gas alam. Segalanya dapat terus berlanjut hanya bila tersedia air, udara bersih dan makanan yang cukup. Dan pilihan ada pada diri manusia sebagai pemimpin di permukaan bumi. Bila kehidupan ingin semakin cepat menghilang, tetaplah menjadi makhluk yang serakah.

Presented by LOURENSIUS S. A. GINTING

270110090069

GEOMORFOLOGI

Leave a comment

Geomorfologi adalah sebuah studi ilmiah terhadap permukaan Bumi dan poses yang terjadi terhadapnya. Secara luas, berhubungan dengan landform (bentuk lahan) tererosi dari batuan yang keras, namun bentuk konstruksinya dibentuk oleh runtuhan batuan, dan terkadang oleh perolaku organisme di tempat mereka hidup. “Surface” (permukaan) jangan diartikan secara sempit; harus termasuk juga bagian kulit bumi yang paling jauh. Kenampakan subsurface terutama di daerah batugamping sangat penting dimana sistem gua terbentuk dan merupakan bagian yang integral dari geomorfologi.

Pengaruh dari erosi oleh: air, angin, dan es, berkolaborasi dengan latitude, ketinggian dan posisi relatif terhadap air laiut. Dapat dikatakan bahwa tiap daerah dengan iklim tertentu juga memiliki karakteristik pemandangan sendiri sebagai hasil dari erosi yang bekerja yang berbeda terhadap struktur geologi yang ada.

Torehan air terhadap lapisan batugamping yang keras dapat berupa aliran sungai yang permanen dan periodik, dapat juga merupakan alur drainase yang melewati bagian-bagian yang lemah. Sehingga membentuk cekungan-cekungan pada bagian yag tererosi dan meninggalkan bagian yang lebih tinggi yang susah tererosi. Ukuran dari cekungan dan tinggian ini bisa beberapa centimeter sampai beberapa kilometer.

Morfologi makro

Dibawah ini adalah beberapa bentuk morfologi permukaan karst dalam ukuran meter sampai kilometer:

  • Swallow hole : Lokasi dimana aliran permukaan seluruhnya atau sebagian mulai menjadi aliran bawah permukaan yang terdapat pada batugamping. Swallow hole yang terdapat pada polje sering disebut ponor. (Marjorie M. Sweeting, 1972). Pengertian ini dipergunakan untuk menandai tempat dimana aliran air menghilang menuju bawah tanah.
  • Sink hole : disebut juga doline, yaitu bentukan negatif yang dengan bentuk depresi atau mangkuk dengan diameter kecil sampai 1000 m lebih. (William B. White, 1988)
  • Vertical shaft : pada bentuk ideal, merupakan silinder dengan dinding vertikal merombak perlapisan melawan inclinasi perlapisan. (William B. White, 1988)
  • Collapse : runtuhan
  • Cockpit : bentuk lembah yang ada di dalam cone karst daerah tropik yang lembab. Kontur cockpit tidak melingkar seperti pada doline tetapi seperti bentuk bintang dengan sisi-sisi yang identik, yang menunjukkan bahwa formasi cone merupakan faktor penentunya. (Alfred Bogli, 1978)
  • Polje : depresi aksentip daerah karst, tertutup semua sisi, sebagian terdiri dari lantai yang rata, dengan batas-batas terjal di beberapa bagian dan dengan sudut yang nyata antara dasar/ lantai dengan tepi yang landai atau terjal itu.(Fink, Union Internationale de Speleologie)
  • Uvala : cekungan karst yang luas, dasarnya lebar tidak rata (Cjivic, 1901) : lembah yang memanjang kadang-kadang berkelak-kelok, tetapi pada umumnya dengan dasar yang menyerupai cawan. (Lehman, 1970)
  • Dry valley: terlihat seperti halnya lembah yang lainnya namun tidak ada aliran kecuali kadang-kadang setelah adanya es yang hebat diikuti oleh pencairan es yang cepat. (G.T. Warwick, 1976).
  • Pulau Jawa memiliki kawasan karst yang cukup spesifik yaitu karst Gunung Sewu, dimana bentukan bukit-bukit seperti cawan terbalik (cone hill) dan kerucut (conical hill) begitu sempurna dengan lembah-lembahnya. Bukit merupakan residu erosi dan lembahnya adalah merupakan daerah diaman terjadi erosi aktif dari dulu sampai sekarang. Bagian-bagian depresi atau cekungan merupakan titik terendah dan menghilangnya air permukaan ke bawah permukaan. Erosi memperlebar struktur (lihat geologi gua dan teori terbentuknya gua), kekar, sesar, dan bidang lapisan, dan membentuk gua-gua, baik vertikal maupun horisontal.
  • Gua-gua juga dapat terbentuk karena adanya mata air karst. Mata air (spring) karst ini ada beberapa jenis:
  • Bedding spring, mata air yang terbentuk pada tempat dimana terjadi pelebaran bidang lapisan,
  • Fracture spring, mata air yang terbentuk pada tempat dimana terjadi pelebaran bidang rekahan,
  • Contact spring, mata air yang terbentuk karena adanya kontak antara batu gamping dan batu lain yang impermiabel.
  • Disamping itu secara khusus ada jenis mata air yang berada di bawah permukaan air laut disebut dengan vrulja.

Morfologi mikro

Ada kawasan karst dengan sudut dip yang kecil dan permukaannya licin. Area ini dipisah-pisahkan dalam bentuk blok-blok oleh joint terbuka, disebut dengan grike-Bhs. Inggris, atau Kluftkarren-Bhs. Jerman. Bentukan-bentukan minor ini dalam bahasa Jerman memiliki akhiran karren (lapies-Bhs Perancis). Sering permukaan blok itu terpotong menjadi sebuah pola dendritic dari runnel dengan deretan dasar (round) dipisahkan oleh deretan punggungan (ridge) yang mengeringkannya kedalam grike terlebih dahulu. Juga terkadang mereka memiliki profil panjang yang hampir mulus. Bentukan ini disebut Rundkarren. Tipe lain adalah Rillenkarren yang memiliki saluran yang tajam, ujung punggungan dibatasi oleh deretan saluran berbentuk V. Biasanya nampak pada permukaan yag lebih curam daripada rundkarren, dengan saluran sub-paralel dan beberapa cabang. Microrillenkarren merupakan bentuk gabungan tetapi hanya memiliki panjang beberapa centimeter dan lebarnya 10-20 mm. Pseudo karren, memiliki bentuk sama dengan rundkarren dan rinnenkarren. Tetapi hanya terjadi pada granit di daerah tropik yang lembab.

GUA

Torehan air dan es adalah faktor utama yang memperlebar zonal lemah dilapisan batu gamping, sehingga terbentuk gua-gua. Ada banyak teori yang menjelaskan asal muasal terjadinya gua (teori klasik), namun sekarang sudah ada teori yang menjelaskan dan diterima secara umum. Perbedaan teori tersebut dikeluarkan oleh orang yang berasal dari kawasan karst yang berbeda, sesuai dengan karakteristik daerah tersebut. Lihat teori terbaru mengenai proses terlahirnya gua. Lihat juga speleogenesis.

GEOMORFOLOGI

October 14th, 2009 • RelatedFiled Under

Filed Under: Umum

Kata Geomorfologi (Geomorphology) berasal bahasa Yunani, yang terdiri dari tiga kata yaitu: Geos (erath/bumi), morphos (shape/bentuk), logos (knowledge atau ilmupengetahuan), maka pengertian geomorfologi merupakan pengetahuan tentang bentuk-bentuk permukaan bumi. Namun Geomorfologi bukan hanya mempelajari bentuk-bentuk muka bumi, tetapi lebih dari itu mempelajari material dan proses, seperti yang dikemukakan oleh Hooke (1988) dalamSukmantalya (1995: 1),

Secara singkat berikut ini disajikan mengenai beberapa definisi geomorfologi yang dikemukakan oleh para ahli yaitu:

1) Lobeck (1939: 3) menyatakan bahwa Geomorfologi adalah studi tentang bentuk lahan.

2) Cooke dan Doornkamp dalam Sutikno (1987: 3) dinyatakan bahwa geomorfologi adalah studi mengenai bentuklahan dan terutama tentang sifat alami, asal mula, proses perkembangan, dan komposisi material penyusunnya.

3) Thornbury dalam Sutikno (1990: 2) disebutkan bahwa geomorfologi adalah ilmu pengetahuan tentang bentuklahan.

4) Zuidam dan Concelado (1979: 3) juga menyatakan bahwa Geomorfologi adalah studi yang menguraikan bentuklahan dan proses yang mempengaruhi pembentukannya serta mengkaji hubungan timbal balik antara bentuk lahan dengan proses dalam tatanan keruangannya.

5) Verstappen (1983: 3) bentuklahan adalah menjadi sasaran Geomorfologi bukan hanya daratan tetapi juga yang terdapat di dasar laut (lautan).

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dijelaskan bahwa Geomorfologi adalah mempelajari bentuklahan (landform), proses-proses yang menyebabkan pembentukan dan perubahan yang dialami oleh setiap bentuk lahan yang dijumpai di permukaan bumi termasuk yang terdapat di dasar laut/samudera serta mencari hubungan antara bentuk lahan dengan proses-proses dalam tatanan keruangan dan kaitannya dengan lingkungan. Di samping itu, juga menelaah dan mengkaji bentuk lahan secara deskriptif, mempelajari cara pembentukannya, proses alamiah dan ulah manusia yang berlangsung, pengkelasan dari bentuk lahan serta cara pemanfaatannya secara tepat sesuai dengan kondisi lingkungannya.

Struktur geologi sangat erat hubungannya dengan bentuk lahan, salah satunya adalah patahan (fault) yang termasuk dalam kajian struktur geologi yang paling mudah di identifikasi karena terlihat secara jelas yaitu terjadinya retakan yang mengakibatkan pergeseran pada batuan yang dimana salah satu sisi bergerak relatif terhadap sisi lainnya

Proses geomorfologi yang terjadi seperti longsor, erosi, aktivitas vulkanisme dll yang menyebabkan bentuk lahan yang dilihat sekarang berbeda dengan bentuk lahan terdahulu seperti yang terjadi pada batuan gamping yang bersifat basa dengan kadar yang tinggi sehingga mudah membentuk lubang akibat dari air hujan yang netral berubah menjadi asam ketika bertemu dengan basa yang berkadar tinggi yang disebut dengan luweng

Erosi adalah peristiwa pengikisan tanah oleh angin, air, atau es. Erosi dapat terjadi karena sebab alami atau disebabkan oleh aktivitas manusia, penyebab alami erosi antara lain adalah karakteristik hujan, kemiringan lereng, tanaman penutup dan kemampuan tanah untuk menyerap dan melepas air ke dalam lapisan tanah dangkal. Erosi yang disebabkan oleh aktivitas manusia umumnya disebabkan oleh adanya penggundulan hutan, kegiatan pertambangan, perkebunan dan perladangan

Perubahan – perubahan iklim didunia akan menyebabkan perbedaan proses geomorfik yang berbeda dikarenakan iklim adalah hal yang sangat mempengaruhi setiap proses yang terjadi dialam ini seperti batu yang melapuk akibat cuaca yang berganti dari dingin kepanas dengan sangat drastis begitu juga dengan bumi yang tersusun bermacam-macam komposisinya

Contoh daerahnya adalah kota semarang yang merupakan salah satu kota pantai yang diindonesia. Dikawasan pantainya terdapat berbagai fasilitas publik yang bernilai sangat tinggi, seperti pelabuhan dan terminal bus antar kota. disamping itu juga terdapat tempat kawasan perumahan yang bernilai sejarah seperti kawasan kota lama, perumahan mewah, kawasan wisata pantai, permukiman kumuh, perikanan, sawah, dsb. Kita dapat melihat kondisi geomorfologi dan kondisi kawasan yang dijumpai pada kota semarang

Pada tahun 2001, diperkirakan permukaan air laut naik 1,00 m ( sea-level rise – SLR 1,00 m ) yang disebabkan oleh berbagai kerusakan lingkungan hidup, antara lain oleh pemanasan global. Dalam kaitan ini, telah dilakukan pengkajian wilayah pantai Kota Semarang menggunakan metoda deskriftif melalui identifikasi dan inventarisasi permasalahan kawasan dan geomorfologi yang ada saat ini untuk mendapatkan dampak atau resiko terhadap fisik lingkungan wilayah, geomorfologi perairan dan daratan, lingkungan, ekonomi sosial serta kemungkinan teknik adaptasi manusia pada genangan banjir, yang kelak akan digunakan untuk bahan penyusunan metoda perhitungan kerugian wilayah, adaptasi dan mitigasi bencana banjir

Berdasarkan dari bencana rob atau banjir, pemda dan masyarakat wilayah pantai Kota semarang sudah berusaha secara teknologi menghadapi/mengadaptasi bencana banjir melalui penerapan teknologi sistem drainase yang tepat, meninggikan lantai rumah, bangunan dan jalan raya hingga rata-rata diatas permukaan air tertinggi

GEOMORFOLOGI :

bentuk permukaan bumi

Geomorfologi adalah sebuah studi ilmiah terhadap permukaan Bumi dan poses yang terjadi terhadapnya. Secara luas, berhubungan dengan landform (bentuk lahan) tererosi dari batuan yang keras, namun bentuk konstruksinya dibentuk oleh runtuhan batuan, dan terkadang oleh perolaku organisme di tempat mereka hidup. “Surface” (permukaan) jangan diartikan secara sempit; harus termasuk juga bagian kulit bumi yang paling jauh. Kenampakan subsurface terutama di daerah batugamping sangat penting dimana sistem gua terbentuk dan merupakan bagian yang integral dari geomorfologi.

Pengaruh dari erosi oleh: air, angin, dan es, berkolaborasi dengan latitude, ketinggian dan posisi relatif terhadap air laiut. Dapat dikatakan bahwa tiap daerah dengan iklim tertentu juga memiliki karakteristik pemandangan sendiri sebagai hasil dari erosi yang bekerja yang berbeda terhadap struktur geologi yang ada.

Torehan air terhadap lapisan batugamping yang keras dapat berupa aliran sungai yang permanen dan periodik, dapat juga merupakan alur drainase yang melewati bagian-bagian yang lemah. Sehingga membentuk cekungan-cekungan pada bagian yag tererosi dan meninggalkan bagian yang lebih tinggi yang susah tererosi. Ukuran dari cekungan dan tinggian ini bisa beberapa centimeter sampai beberapa kilometer.

SUMBER

Explore posts in the same categories: Caving

Intinya adalah:

Jadi geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari tentang permukaan bumi

Contoh dari salah satu daerah dan efek dr GEOMORFOLOGI adalah :

Hasil identifikasi bentuk dasar laut dari beberapa lintasan seismik, citra seabeam dan foto dasar laut maka dapat dikenali beberapa bentuk geomorfologi utama yang umum terdapat pada kawasan subduksi lempeng aktif. Empat bentuk morfologi utama dapat diidentifikasi, yaitu zona subduksi, palung laut, prisma akresi, dan cekungan busur muka. Gambaran bentuk geomorfologi dasar laut ini kemungkinan merupakan contoh morfologi dasar laut yang terbaik di dunia karena batas-batasnya yang jelas dan mudah dikenali.

Dan apabila lempengan – lempengan yang ada di dasar laut tersebut saling bertabrakan maka akan terjadigempa dan diikuti oleh tsunami, dan ciri-ciri tsunami adalah air laut akan menyurut ke tengah dan akan memuntahkannya air yang surut tadi kearah sisi pantai dan akan membanjiri daratan.

- Efeknya bagi manusia adalah :

akan terjadi bencana gempa bumi yang sangat dahsyat

- Terjadi didaerah daerah Padang Pariaman dan sekitarnya.

A.  Pengertian Geomorfologi

Geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bentuk permukaan bumi dan perubahan-perubahan yang terjadi pada bumi itu sendiri. Geomorfologi biasanya diterjemahkan sebagai ilmu bentang alam. Mula-mula orang memakai kata fisiografi untuk ilmu yang mempelajari tetang ilmu bumi ini, hal ini dibuktikan pada orang-orang di Eropa menyebut fisiografi sebagai ilmu yang mempelajari rangkuman tentang iklim, meteorologi, oceanografi, dan geografi. Akan tetapi orang, terutama di Amerika, tidak begitu sependapat untuk memakai kata ini dalam bidang ilmu yang hanya mempelajari ilmu bumi saja dan lebih erat hubungannya dengan geologi. Mereka lebih cenderung untuk memakai kata geomorfologi.

B.     Konsep dasar Geomorfologi

10 Konsep dasar geomorfologi yang berada dalam buku Principles of Geomorphology adalah:

  1. Proses-proses fisik dan hukumnya yang terjadi saat ini berlangsung selama waktu geologi,
  2. Struktur geologi merupakan faktor pengontrol yang dominan dalam evolusi bentuk lahan,
  3. Tingkat perkembangan relief permukaan bumi tergantung pada proses-proses geomorfologi yang berlangsung,
  4. Proses-proses geomorfik terekam pada land forms yang menunjukan karakteristik proses yang berlangsung,
  5. Keragaman erosional agents tercermin pada produk dan urutan land forms yang terbentuk,
  6. Evolusi geomorfologi bersifat kompleks,
  7. Obyek alam di permukaan bumi umumnya berumur lebih muda dari Pleistosen,
  8. Interpretasi yang sempurna mengenai landscapes melibatkan beragam faktor geologi dan perubahan iklim selama Pleistosen,
  9. Apresiasi iklim global diperlukan dalam memahami proses-proses geomorfik yang beragam, dan
  10. Geomorfologi, umumnya mempelajari land forms / landscapes yang terjadi saat ini dan sejarah pembentukannya.

C.     Proses Geomorfologi.

Proses geomorfologi adalah perubahan-perubahan baik secara fisik maupun kimiawi yang dialami permukaan bumi. Penyebab proses tersebut yaitu benda-benda alam yang kita kenal dengan nama geomorphic agent, berupa air dan angin. Keduanya merupakan ad penyebab yang dibantu dengan adanya gaya berat, dan keseluruhannya bekerja bersama-sama dalam melakukan perubahan terhadap permukaan muka bumi. Tenaga-tenaga perusak ini dapat kita golongkan dalam tenaga asal luar (eksogen), yaitu yang datang dari luar atau dari permukaan bumi, sebagai lawan dari tenaga asal dalam (endogen) yang berasal dari dalam bumi. Tenaga asal luar pada umumnya bekerja sebagai perusak, sedangkan tenaga asal dalam sebagai pembentuk. Kedua tenaga inipun bekerja bersama-sama dalam mengubah bentuk permukaan muka bumi ini.

Pembentukan Perusakan Pengangkutan
Tenaga asala dalam

Pembentukan struktur

Pembentukan gunung api

Tenaga asal luar

Gradasi

Pelapukan

Tenaga dari luar bumi

Adanya jatuhan dari meteor

Tenaga asal luar

Pengangkutan bahan

Erosi

Gelombang

Gambar 1.0 Bagan Terjadinya geomorfologi.

D.      Ada beberapa terapan geomorfologi menurut Thornbury dalam Sutikno yaitu:

  1. Terapan geomorfologi dalam hidrologi, yang membahas hidrologi di daerah karst dan air tanah daerah glasial. Masalah hidrologi di daerah karst dapat diketahui dengan baik apabila geomorfologinya diketahui secara mendalam. Air tanah di daerah glasial tergatung pada tipe endapannya, dan tipe endapan ini dapat lebih mudah didekati dengan geomorfologi.
  2. Terapan geomorfologi dalam geologi ekonomi, yaitu membahas pendekatan geomorfologi untuk menentukan tubuh bijih, jebakan residu, mineral epigenetik, dan endapan bijih.
  3. Terapan geomorfologi dalam keteknikan, aspek keteknikan yang dibahas meliputi jalan raya, penentuan pasir, dan kerakal, pemilihan situs bendungan dan geologi militer. Terapan geomorfologi dalam keteknikan ini semua aspek geomorfologi dipertimbangkan
  4. Terapan geomorfologi dalam ekplorasi minyak, banyak unsur-unsur minyak di AS yang ditentukan dengan pendekatan geomorfologi terutama bentuklahan termasuk topografi, untuk mengenal struktur geologi dalam penentuan terdapatnya kandungan minyak.
  5. Terapan geomorfologi dalam bidang lain, yaitu menyangkut pemetaan tanah, kajian pantai, dan erosi.

E.      Ringkasan

Geomorfologi bukan hanya sekedar mempelajari bentuk lahan yang tampak saja, tetapi juga mentafsirkan bagaimana bentuk-bentuk tersebut bisa terjadi, proses apa yang mengakibatkan pembentukan dan perubahan muka bumi. Jadi meliputi bentuklahan (landform), proses-proses yang menyebabkan pembentukan dan perubahan yang dialami oleh setiap bentuklahan yang dijumpai di permukaan bumi termasuk yang terdapat di dasar laut/samudera serta mencari hubungan antara bentuk lahan dengan proses-proses dalam tatanan keruangan dan kaitannya dengan lingkungan. Dengan demikian bahwa dalam mempelajari geomorfologi terkait pada geologi, fisiografi, dan proses geomorfologi yang menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan dalam perubahan bentuk lahan. Konsep dasar Geomorfologi perlu dipahami secara baik untuk mempelajari Geomorfologi dalam membantu mengenal dan menganalisa kenampakan bentuk lahan di permukaan bumi, sehingga pada akhirnya dapat mengenal peristilahan baik secara deskriptif maupun secara empiris, terutama nanti dalam melakukan klasifikasi bentuk lahan. Geomorfologi mempunyai peran dan terapan dalam survei dan pemetaan, survei geologi, hidrologi, vegetasi, penggunaan lahan pedesaan, keteknikan, ekplorasi mineral, pengembangan dan perencanaan, analisis medan, banjir, serta bahaya alam disebabkan oleh gaya endogen.

Contoh daerah yang mengalami perubahan bentuk permukaan muka bumi:

Palung laut merupakan bentuk paritan memanjang dengan kedalaman mencapai lebih dari 6.500 meter. Umumnya palung laut ini merupakan batas antara kerak samudera India dengan tepian benua Eurasia sebagai bentuk penunjaman yang menghasilkan celah memanjang tegak lurus terhadap arah penunjaman (Gambar 4).

Satuan geomorfologi palung samudra di sebelah selatan Jawa (PPPGL, 2008).

Satuan geomorfologi palung samudra di sebelah selatan Jawa (PPPGL, 2008).

Beberapa patahan yang muncul di sekitar palung laut ini dapat reaktif kembali seperti yang diperlihatkan oleh hasil plot pusat-pusat gempa atau episentrum di sepanjang lepas pantai pulau Sumatera dan Jawa. Sesar mendatar Mentawai yang ditemukan pada Ekspedisi Mentawai Indonesia-Prancis tahun 1990-an terindikasi sebagai sesar mendatar yang berpasangan namun di berarapa bagian memperihatkan bentuk sesar naik. Hal ini merupakan salah satu sebab makin meningkatnya tekanan kompresif dan seismisitas yang menimbulkan kegempaan.

Di bagian barat pulau Sumatera, pergerakan lempeng samudera India mengalibatkan terangkatnya sedimen (seabed) di kerak samudera dan prisma-prisma akresi yang merupakan bagian terluar dari kontinen. Sesar-sesar normal yang terbentuk di daerah bagian dalam yang memisahkan prisma akresi dengan busur  kepulauan mengakibatkan peningkatan pasokan sedimen yang lebih besar. Demikian pula akibat terjadinya pengangkatan tersebut maka morfologi palung laut di kawasan ini memperlihatkan bentuk lereng yang terjal dan sempit dibandingkan dengan palung yang terbentuk di kawasan timur Indonesia.

Daerah lain terjadinya geomorfologi yaitu daerah semarang yang merupakan salah satu kota pantai yang di indonesia. Dikawasan pantainya terdapat berbagai fasilitas publik yang bernilai sangat tinggi, seperti pelabuhan dan terminal bus antar kota. disamping itu juga terdapat tempat kawasan perumahan yang bernilai sejarah seperti kawasan kota lama, perumahan mewah, kawasan wisata pantai, permukiman kumuh, perikanan, sawah, dsb. Kita dapat melihat kondisi geomorfologi dan kondisi kawasan yang dijumpai pada kota semarang

Tanah Longsor yang terjadi di Semarang.

Tanah Longsor yang terjadi di Semarang.

Pada tahun 2001, diperkirakan permukaan air laut naik 1,00 m yang disebabkan oleh berbagai kerusakan lingkungan hidup, antara lain oleh pemanasan global. Dalam kaitan ini, telah dilakukan pengkajian wilayah pantai Kota Semarang menggunakan metoda deskriftif melalui identifikasi dan inventarisasi permasalahan kawasan dan geomorfologi yang ada saat ini untuk mendapatkan dampak atau resiko terhadap fisik lingkungan wilayah, geomorfologi perairan dan daratan, lingkungan, ekonomi sosial serta kemungkinan teknik adaptasi manusia pada genangan banjir, yang kelak akan digunakan untuk bahan penyusunan metoda perhitungan kerugian wilayah, adaptasi dan mitigasi bencana banjir

Berdasarkan dari bencana rob atau banjir, pemda dan masyarakat wilayah pantai Kota semarang sudah berusaha secara teknologi menghadapi/mengadaptasi bencana banjir melalui penerapan teknologi sistem drainase yang tepat.

Sumber:

Blog geje. Geomorfologi Umum.

 

Presented by NUR KHAIRULLAH

270110090056

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.